Tathayyur (Merasa Sial): Definisi, Contoh Modern, dan Bantahan Aqidah Ahlus Sunnah
Di antara bentuk kesyirikan yang masih tersebar luas di tengah masyarakat sejak zaman jahiliyah hingga hari ini adalah tathayyur, yaitu merasa sial dan menentukan sikap berdasarkan pertanda tertentu. Keyakinan ini tidak hanya ditemukan di pedesaan, tetapi juga di masyarakat modern, perkotaan, bahkan dalam sistem industri dan bisnis. Oleh karena itu, pembahasan tentang tathayyur menjadi sangat penting karena ia berkaitan langsung dengan kemurnian tauhid dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Tathayyur termasuk perkara yang secara khusus disebutkan oleh Nabi ﷺ sebagai penghalang seseorang untuk masuk surga tanpa hisab, sebagaimana dalam hadits tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.
Daftar Isi
Definisi Tathayyur
Secara bahasa, tathayyur berasal dari kata thayr (burung). Orang-orang Arab jahiliyah dahulu menentukan keputusan dengan melihat arah terbang burung. Jika burung terbang ke kanan, mereka lanjutkan rencana. Jika ke kiri, mereka membatalkannya.
Secara istilah syar‘i, tathayyur adalah menentukan sikap, melanjutkan atau membatalkan suatu urusan, berdasarkan pertanda yang tidak memiliki hubungan sebab-akibat secara syar‘i maupun kauni.
Rujukan
Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, jilid 24 hlm. 277
Ibnu Utsaimin, Majmu‘ Fatawa wa Rasail, jilid 2 hlm. 128
Pentingnya Membahas Tathayyur
Pembahasan tathayyur penting setidaknya dari dua sisi.
Pertama, karena praktik tathayyur masih sangat luas tersebar di masyarakat dengan berbagai bentuk dan model, bahkan sering dianggap sebagai adat, budaya, atau sekadar kebiasaan ringan.
Kedua, karena meninggalkan tathayyur termasuk syarat orang yang masuk surga tanpa hisab, sebagaimana sabda Nabi ﷺ tentang orang-orang yang sempurna tawakalnya.
Rujukan
HR. al-Bukhari no. 5705
HR. Muslim no. 220
Bentuk-Bentuk Tathayyur di Zaman Jahiliyah
Orang-orang jahiliyah dahulu menentukan nasib mereka dengan burung. Mereka mengusir burung tertentu, lalu mengaitkan arah terbangnya dengan keberhasilan atau kegagalan rencana mereka. Praktik ini menunjukkan kebodohan dan kerusakan akal, karena makhluk yang tidak memiliki akal justru dijadikan penentu nasib manusia.
Rujukan
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jilid 3 hlm. 421
Meluasnya Makna Tathayyur
Dalam syariat Islam, tathayyur tidak terbatas pada burung. Ia mencakup semua bentuk penentuan sikap berdasarkan pertanda, seperti:
Hari tertentu yang dianggap sial
Bulan tertentu yang diyakini membawa kesialan
Hewan tertentu yang dianggap pembawa nasib buruk
Angka tertentu seperti 13 atau 4
Pemandangan atau kondisi tertentu
Semua ini masuk dalam kategori tathayyur jika diyakini memengaruhi nasib.
Rujukan
Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, jilid 1 hlm. 195
Contoh Tathayyur Berkaitan dengan Waktu
Sebagian masyarakat menganggap bulan tertentu sebagai bulan sial, seperti menganggap menikah di bulan Syawal atau Muharram membawa kesialan. Keyakinan ini telah dibantah langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Aisyah رضي الله عنها berkata bahwa Rasulullah ﷺ menikahinya pada bulan Syawal dan hidup bersamanya pada bulan Syawal, untuk membantah keyakinan jahiliyah tersebut.
Rujukan
HR. Muslim no. 1423
An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, jilid 9 hlm. 209
Demikian pula anggapan hari Selasa, Rabu tertentu, atau waktu Maghrib sebagai waktu sial, semuanya tidak memiliki dasar syar‘i dan termasuk keyakinan jahiliyah.
Tathayyur Berkaitan dengan Hewan
Di antara contoh tathayyur yang tersebar adalah menganggap burung hantu, kucing, tokek, ular, atau hewan tertentu sebagai pembawa kesialan. Semua keyakinan ini dibantah oleh Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak ada ‘adwa (penyakit menular dengan sendirinya), tidak ada tathayyur, tidak ada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.”
Rujukan
HR. al-Bukhari no. 5757
HR. Muslim no. 2220
Hadits ini menegaskan bahwa semua keyakinan jahiliyah tersebut adalah batil.
Tathayyur Berkaitan dengan Angka
Keyakinan tentang angka sial, seperti angka 13 atau 4, merupakan contoh nyata tathayyur modern. Bahkan banyak pesawat, hotel, dan gedung bertingkat yang menghilangkan angka-angka tersebut.
Keyakinan ini tidak dibangun di atas dalil, logika, maupun sains, tetapi murni warisan tahayul yang bertentangan dengan tauhid.
Rujukan
Ibnu Utsaimin, Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, jilid 1 hlm. 84
Hukum Tathayyur dalam Islam
Hukum asal tathayyur adalah syirik kecil, karena ia merusak tawakal dan menyandarkan sebab kepada sesuatu yang tidak ditetapkan Allah.
Namun tathayyur bisa berubah menjadi syirik besar apabila seseorang meyakini bahwa pertanda tersebut memiliki pengaruh sendiri dalam mendatangkan manfaat atau menolak mudarat.
Rujukan
Syaikh Bin Baz, Majmu‘ Fatawa, jilid 1 hlm. 330
Al-Albani, Tahdzir as-Sajid, hlm. 24
Dalil Al-Qur’an tentang Tathayyur
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya nasib mereka itu di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(QS. Al-A‘raf: 131)
Ayat ini turun berkaitan dengan kaum Fir‘aun yang menuduh Nabi Musa عليه السلام sebagai pembawa kesialan.
Rujukan
At-Thabari, Jami‘ al-Bayan, jilid 9 hlm. 150
Sikap Seorang Muslim terhadap Tathayyur
Seorang muslim tidak lepas dari bisikan hati. Jika muncul lintasan rasa sial, maka kewajibannya adalah menolak lintasan tersebut dengan tawakal dan melanjutkan urusan.
Nabi ﷺ bersabda:
“Tathayyur adalah syirik.”
Beliau mengulanginya tiga kali.
Rujukan
HR. Ahmad no. 7045
Al-Albani, Shahih al-Jami‘ no. 3958
Jika lintasan tersebut membuat seseorang membatalkan urusan, maka ia telah terjatuh dalam tathayyur yang terlarang.
Optimisme yang Dibenarkan: Al-Fa’l
Berbeda dengan tathayyur, Islam membolehkan dan menganjurkan al-fa’l, yaitu optimisme dengan kata-kata yang baik, seperti nama yang baik atau ungkapan yang baik, sebagai bentuk husnuzan kepada Allah.
Rujukan
HR. al-Bukhari no. 5776
Ibnu Hajar, Fath al-Bari, jilid 10 hlm. 214
Penutup
Tathayyur adalah warisan jahiliyah yang merusak tauhid dan akal sehat. Islam datang untuk membersihkan keyakinan manusia dari semua bentuk takhayul dan mengembalikan hati kepada tawakal yang murni kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Tidak ada kesialan pada waktu, tempat, angka, atau makhluk apa pun. Semua kebaikan dan keburukan terjadi dengan izin Allah semata.
Wallahu a‘lam bish-shawab.



