Pertanyaan: Ahsanallāhu ilaikum ustādz. Izin bertanya.. Bagaimana menyikapi seorang pengajar dan dai (bermanhaj salaf) namun ditemukan beberapa indikasi selubung kemunafikan, seperti suka bermaksiat ketika sendirian, berkhianat, sering lalai, sering masbuk bahkan bermudah-mudahan shalat di rumah, dst. Adapun ilmu yang disampaikan ketika mengajar/ceramah insyāAllāh isinya kebenaran dan sesuai sunnah. Jazākumullāh khairan
Kategori: Lainnya
Tanya: Ahsanallāhu ilaikum ustādz. Izin bertanya.. Bagaimana menyikapi seorang pengajar dan dai (bermanhaj salaf) namun ditemukan beberapa indikasi selubung kemunafikan, seperti suka bermaksiat ketika sendirian, berkhianat, sering lalai, sering masbuk bahkan bermudah-mudahan shalat di rumah, dst. Adapun ilmu yang disampaikan ketika mengajar/ceramah insyāAllāh isinya kebenaran dan sesuai sunnah. Jazākumullāh khairan
Jawaban:
Persoalan ini perlu disikapi dengan keseimbangan antara menjaga kehormatan sesama Muslim dan menegakkan kebenaran. Kita tidak boleh langsung memvonis seseorang sebagai munafik hanya berdasarkan indikasi lahiriah yang kita dengar atau lihat, karena batin manusia hanya Allah yang mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kalian menjadi menyesal atas perbuatan itu." (QS. Al-Hujurat: 6). Ayat ini menegaskan pentingnya tabayun, apalagi jika berita buruk itu baru berupa indikasi atau kabar dari pihak lain.
Sifat yang Anda sebutkan, seperti berkhianat dan sering lalai, memang termasuk sebagian tanda kemunafikan amali, bukan kemunafikan akbar yang mengeluarkan dari Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: "Tanda munafik itu ada tiga: apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanah berkhianat." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 33 dan Imam Muslim no. 59 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan disepakati keshahihannya. Sifat ini adalah dosa besar yang harus diperingatkan, tetapi tidak serta merta menjadikan seseorang keluar dari Islam. Adapun sikap meremehkan shalat berjamaah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mengingatkan:
إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
Artinya: "Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 657 dan Imam Muslim no. 651 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan kedudukannya shahih. Ini menunjukkan bahwa bermudah-mudahan meninggalkan shalat berjamaah tanpa uzur adalah kebiasaan yang sangat tercela, tetapi tetap harus dipastikan apakah ada uzur syar'i sebelum mencelanya.
Langkah yang paling tepat adalah memberikan nasihat secara rahasia dengan cara yang hikmah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Agama adalah nasihat," sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim no. 55 dari Tamim Ad-Dari radhiyallahu 'anhu. Jika Anda memiliki hubungan yang memungkinkan, sampaikan kepadanya kekhawatiran Anda dengan lembut, tanpa membongkar aibnya di hadapan orang lain. Menutup aib saudara Muslim lebih utama selama masih bisa diperbaiki, sebagaimana hadits riwayat Muslim no. 2590 dari Abu Hurairah bahwa siapa menutup aib seorang Muslim di dunia, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Jangan jadikan kekurangan pribadinya sebagai bahan ghibah atau perendahan martabatnya.
Adapun ilmunya yang berisi kebenaran dan sesuai sunnah, maka manfaat tersebut boleh diambil. Kita tidak otomatis menolak kebenaran hanya karena pembawanya memiliki kekurangan pribadi. Namun, seorang pengajar dan dai harus menyadari besarnya tanggung jawab sebagai teladan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan." (QS. As-Shaff: 2-3). Karena itu, selama isi dakwahnya benar, Anda boleh menerima ilmunya, tetapi jangan menjadikannya sebagai figur utama dalam keteladanan akhlak sampai ia memperbaiki diri. Jika maksiatnya semakin terang-terangan dan nasihat tidak diindahkan, barulah sikap tegas diperlukan dengan tetap menjaga adab, misalnya dengan tidak menjadikannya imam atau penanggung jawab urusan agama secara personal, tanpa harus menyebarkan aibnya.
Wallahu a'lam.