Nama lengkapnya adalah ‘Utsman bin ‘Affan bin Abi Al-‘Ash bin Umayyah bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf Al-Umawi Al-Qurasyi. Beliau bergelar Dzun Nurain (pemilik dua cahaya), karena menikahi dua putri Rasulullah ﷺ, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Kunyah beliau adalah Abu ‘Amr. Dan pada masa jahiliyah dan pada masa Islam nama julukannya (kunyah) adalah Abu ‘Amr. Beliau dilahirkan di Makkah enam tahun setelah Tahun Gajah. Ibunya bernama Arwa binti Kurayz bin Rabi’ah bin Habib bin ‘Abdi Syams yang kemudian memeluk Islam yang baik dan teguh.
Keutamaannya
Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, seraya berkata: “Pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang duduk, dimana beliau membuka (pakaian) betisnya, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menemuinya dan beliau mengizinkannya, lalu beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar meminta izin untuk menemuinya dan beliau mengizinkannya, lalu beliau tetap dalam keadaan semula. Kemudian Utsman meminta izin untuk menemuinya, maka beliau menutup pakaiannya (untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka aku (Aisyah) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menemuimu dan engkau tidak menutup pahamu, sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakaianmu (dipakai untuk menutupinya)?’ Maka Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Wahai ‘Aisyah, bagaimana aku tidak merasa malu dari seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya’.”
Ibnu ‘Asakir dan yang lainnya menjelaskan dalam kitab Fadha’il bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Utsman itu adalah khalifah Rasulullah ﷺ yang kedua dan ketiga yang diangkat dengan Dzurri, dimana Rasulullah ﷺ menikahkannya dengan kedua putrinya.”
Perjalanan hidupnya
Perjalanan hidupnya yang tidak pernah terputus dalam sejarah umat Islam adalah beliau membukukan Al-Qur’an dan memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta memerintahkan umat Islam agar berpatokan kepada dan menumbuhkan mushaf yang dianggap bertentangan dengan mushaf yang dipegang umat Islam dengan salinan tersebut. Atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, melalui tindakan beliau ini umat Islam dapat disatukan kembali ke autentikan Al-Qur’an sampai sekarang ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang terbaik.
Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad-nya bahwa ketika al-Hasan ditanya tentang orang yang beristirahat pada waktu tengah hari di masjid, maka ia menjawab, “Aku melihat Utsman bin ‘Affan beristirahat di masjid, padahal beliau sebagai khalifah, dan ketika ia berdiri nampak sekali bekas kerikil pada bagian rusuknya, sehingga kami berkata, ‘Ini Amirul Mukminin’.”
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyah al-Auliya’ dari Ibnu Sirin bahwa ketika Utsman terbunuh, beliau berkata, “Mereka telah tega membunuhnya, padahal mereka telah menghidupkan seluruh malam dengan Al-Qur’an.”
Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar seraya berkata dengan firman Allah: “Apakah kamu hai orang musyrik menyangka bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban), sedangkan belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin?” (QS. At-Taubah: 16). Maka beliau berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Utsman.”
Wafatnya beliau pada tahun 35 H pada pertengahan tasyrik tanggal 12 Dzul Hijjah, dalam usia 80 tahun lebih, dibunuh oleh kaum pemberontak (Khawarij).
