Bismillah
Ciri-Ciri Ahlul Bid’ah Menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan Penjelasan Ulama Salaf
Pembahasan tentang Ahlul Bid’ah termasuk pembahasan penting dalam Islam. Sebab agama ini dibangun di atas ittiba’, yaitu mengikuti wahyu, bukan membuat cara beragama baru yang tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ.
Di setiap zaman, para ulama Ahlus Sunnah memberikan perhatian besar terhadap masalah bid’ah. Mereka menjelaskan hakikatnya, bahayanya, sekaligus menerangkan tanda-tanda orang yang menyimpang dari manhaj yang benar agar kaum muslimin tidak tertipu oleh slogan, retorika, atau penampilan luar.
Namun perlu dipahami sejak awal, pembahasan ciri-ciri Ahlul Bid’ah bukan bertujuan untuk sibuk mencap manusia tanpa ilmu, melainkan sebagai bentuk penjagaan terhadap kemurnian agama sebagaimana yang dilakukan para ulama salaf sejak dahulu.
Apa yang Dimaksud Dengan Ahlul Bid’ah?
Secara umum, Ahlul Bid’ah adalah orang-orang yang menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah, dan jalan para sahabat dalam perkara agama, baik dalam masalah aqidah, ibadah, maupun manhaj.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami ini yang bukan berasal darinya maka amalan itu tertolak.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bid’ah bukan sekedar perkara amalan tambahan dalam ibadah, tetapi mencakup setiap penyimpangan yang tidak memiliki landasan dari syariat. Karena itu para ulama salaf sangat keras memperingatkan umat dari ahlul ahwa wal bida’, yaitu pengikut hawa nafsu dan pelaku bid’ah.
Ciri-Ciri Ahlul Bid’ah
1. Salah satu ciri yang paling sering disebutkan para ulama adalah mendahulukan akal, perasaan, atau pemikiran kelompok di atas dalil.
Ketika dalil shahih datang kepada mereka, sebagian tidak tunduk sepenuhnya. Mereka berusaha menyesuaikan nash dengan logika, filsafat, budaya, atau kepentingan kelompok.Allah Ta’ala berfirman:
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.”
(QS. Al-Qashash: 50)
Karena itu para ulama salaf sering menyebut Ahlul Bid’ah dengan istilah ahlul ahwa, yaitu pengikut hawa nafsu.
2. Ciri lainnya adalah membenci sunnah atau meremehkan para pembelanya.
Tidak sedikit pelaku bid’ah yang mudah tersinggung ketika hadits shahih dibawakan kepada mereka. Mereka lebih nyaman dengan tradisi, tokoh, kelompok, atau kebiasaan yang telah lama mereka pegang.
Imam Ayyub As-Sikhtiyani رحمه الله berkata:
“Apabila aku mendengar kematian seorang pengikut sunnah, seakan-akan hilang salah satu anggota tubuhku.”
Perkataan ulama salaf ini menunjukkan betapa besar kecintaan mereka kepada sunnah dan ahlinya, berbeda dengan ahlul bid’ah yang sering memusuhi pembawa sunnah.
3. Di antara ciri yang disebutkan para ulama juga adalah gemar membuat istilah-istilah samar, syubhat intelektual, atau ucapan yang membingungkan masyarakat awam.
Mereka terkadang memakai slogan yang tampak indah, seperti persatuan, toleransi, cinta umat, atau moderasi. Namun ketika diteliti lebih dalam, ternyata slogan tersebut digunakan untuk melemahkan sunnah, mengaburkan tauhid, atau menyerang prinsip-prinsip Ahlus Sunnah.
Imam Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata:
“Bid’ah lebih dicintai iblis daripada maksiat, karena maksiat masih mungkin ditaubati sedangkan bid’ah jarang ditaubati.”
Sebab pelaku maksiat biasanya sadar bahwa dirinya salah, sedangkan pelaku bid’ah sering merasa dirinya sedang beribadah.
4. Ciri berikutnya adalah fanatik kepada tokoh, kelompok, atau organisasi.
Ahlus Sunnah mengukur manusia dengan kebenaran. Adapun sebagian Ahlul Bid’ah justru mengukur kebenaran dengan manusia.
Selama berasal dari tokohnya maka diterima, meskipun menyelisihi dalil. Namun bila datang dari pihak lain, langsung ditolak walaupun bersandar kepada Al-Qur’an dan hadits.
Padahal Allah Ta’ala berfirman:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa’: 59)
Ayat ini menunjukkan bahwa standar kebenaran adalah wahyu, bukan loyalitas kelompok.
Bagaimana Sikap Ahlul Bid’ah Terhadap Dalil?
Para ulama menjelaskan bahwa di antara tanda penyimpangan adalah buruknya sikap terhadap nash syar’i.Sebagian menolak hadits ahad dalam aqidah. Sebagian menakwil sifat-sifat Allah tanpa dalil. Sebagian lagi menganggap hadits shahih tidak relevan dengan zaman.
Padahal generasi salaf menerima nash sebagaimana datangnya dengan penuh ketundukan.
Imam Az-Zuhri رحمه الله berkata:
“Dari Allah datang risalah, atas Rasul menyampaikan, dan atas kita adalah tunduk.”
Inilah perbedaan mendasar antara Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah.
Ahlus Sunnah memiliki prinsip yang sangat agung: tunduk kepada wahyu.
Ketika Allah berfirman dan Rasulullah ﷺ bersabda, maka sikap mereka sebagaimana sikap para sahabat Nabi ﷺ, yaitu menerima, tunduk, dan patuh tanpa mendahulukan logika, perasaan, adat, tokoh, atau kepentingan kelompok.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah mereka berkata: ‘Kami mendengar dan kami taat.’”
(QS. An-Nur: 51)
Inilah akhlak para sahabat. Ketika dalil datang kepada mereka, mereka tidak mencari-cari alasan untuk menghindar, tidak membuat syarat agar mau menerima, dan tidak menimbang wahyu dengan selera pribadi.
Prinsip mereka sederhana namun sangat agung:
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Kami mendengar dan kami taat.”
Berbeda dengan sebagian Ahlul Bid’ah. Ketika Allah berfirman atau Nabi ﷺ bersabda, mereka sering kali tidak memulai dengan ketundukan total kepada wahyu, tetapi memulai dengan penilaian hawa nafsu, logika, tradisi, atau kepentingan tertentu.
Jika hadits itu terasa cocok dengan pemikiran mereka, mereka mengambilnya. Namun jika terasa berat bagi hawa nafsu, bertentangan dengan tokoh yang mereka ikuti, atau tidak sesuai dengan agenda mereka, maka mereka mulai mencari berbagai alasan untuk menolaknya.
Seakan-akan prinsip yang dipakai adalah:
“Jika enak menurut kami maka kami ambil, jika tidak enak menurut kami maka kami tinggalkan.”
Padahal seorang muslim sejati tidak menimbang wahyu dengan selera pribadi, tetapi menimbang dirinya dengan wahyu.
Karena itu, tidak jarang ketika dibawakan ayat atau hadits shahih, sebagian mereka berkata:
“Ya, saya dengar… tapi kan…”
“Memang ada haditsnya… tapi konteksnya…”
“Betul Nabi bersabda… tapi menurut logika…”
“Memang Allah berfirman… tapi zaman sekarang berbeda…”
Kalimat “iya, tapi…” yang digunakan untuk menolak atau menghindari konsekuensi dalil merupakan penyakit yang telah diperingatkan para ulama sejak dahulu.
Iblis sendiri tidak mengingkari perintah Allah karena tidak mendengar perintah tersebut. Ia mendengar, memahami, bahkan berbicara langsung. Namun masalahnya adalah ia mendahulukan logika dan kesombongannya di atas perintah Allah.
Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan Iblis:
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Iblis berkata: ‘Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’”
(QS. Al-A’raf: 12)
Perhatikan, masalahnya bukan karena Iblis tidak mendengar perintah. Masalahnya karena ia menjawab perintah dengan logika pembangkangan.
Karena itu para ulama salaf sangat memperingatkan dari sikap mendahulukan akal, hawa nafsu, atau pendapat manusia di atas wahyu.
Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berkata:
“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa barang siapa telah jelas baginya sunnah Rasulullah ﷺ, maka tidak halal baginya meninggalkannya karena perkataan siapa pun.”
Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah: ketika Allah berfirman dan Rasulullah ﷺ bersabda, maka jawabannya adalah:
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
Bukan:
“Ya saya dengar… tapi…”
Bahaya Berteman Dengan Ahlul Bid’ah
Para ulama salaf memberikan peringatan keras tentang bahayanya duduk bersama pelaku bid’ah, terutama bagi orang awam atau penuntut ilmu pemula.
Imam Al-Barbahari رحمه الله berkata:
“Apabila tampak bagimu bid’ah dari seseorang maka waspadalah darinya, karena apa yang dia sembunyikan lebih banyak daripada yang dia tampakkan.”
Perkataan para ulama seperti ini tidak lahir dari sikap kasar atau fanatisme, melainkan sebagai bentuk penjagaan terhadap agama.
Karena syubhat sering lebih berbahaya daripada syahwat.
Penutup
Ciri-ciri Ahlul Bid’ah telah banyak dijelaskan oleh Al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan para ulama salaf. Di antaranya adalah mendahulukan hawa nafsu di atas dalil, memusuhi sunnah, fanatik kepada kelompok, gemar menyebarkan syubhat, serta menyelisihi jalan para sahabat Nabi ﷺ.Namun seorang muslim juga wajib berhati-hati agar tidak mudah melabeli manusia tanpa ilmu, tanpa keadilan, dan tanpa bimbingan para ulama.
Tujuan mempelajari pembahasan ini bukan untuk memperbanyak permusuhan, tetapi agar seorang muslim mampu menjaga aqidah dan agamanya di tengah banyaknya penyimpangan di akhir zaman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Semoga Allah menjaga kita di atas sunnah Nabi ﷺ, menjauhkan kita dari jalan ahlul ahwa wal bida’, dan memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta istiqamah sampai akhir hayat. Aamiin.
