Mengejar Bayangan
"lari...lari...dan terus lari,
kejar...kejar...teruslah kejar sampai dapat. Dengan ambisi yang besar, semua yang mustahil akan di raih."
Berkat sebuah ambisi, diri terdorong untuk mengejar dan berlari semakin kencang. Agar lekas sampai pada puncak bernama "kesuksesan."
Secara hakikat, manusia adalah makhluk yang suka bersaing. Manusia akan sangat suka, jika dirinya lebih unggul dari yang lain. Manusia sangat menyukai kenikmatan, kekayaan, kemewahan, kesenangan, manusia senang memiliki segalanya.
Itu, adalah hal yang lumrah, manusiawi. Ambisi, kerja keras, dan keinginan untuk berkembang merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia.
Namun permasalahan muncul, ketika pencapaian tersebut berubah menjadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan. Seseorang akan menilai dirinya berdasarkan apa yang dimilikinya, bukan berdasarkan siapa dirinya dan nilai apa yang ia bawa dalam kehidupan.
Kita pun, akan mulai membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain.
Ketika seseorang telah mencapai sesuatu lebih dahulu, kita akan merasa sangat tertinggal. Ketika melihat orang lain memiliki kehidupan yang tampak lebih bahagia, kita mulai mempertanyakan kehidupan diri kita sendiri. Merasa sudah tertinggal, padahal tidak ada yang mengajak cepat-cepatan.
Allah telah memiliki ketentuan bagi setiap hamba-Nya. Lantas apa yang membuat kita merasa kalah?!
Allah telah memberikan setiap katentuan untuk hambanya. Allah telah memberikan pintu gerbang yang berbeda pada setiap hamba-Nya.
Bukankah, setiap manusia memiliki titik awal, kondisi, kesempatan, kemampuan, dan jalan kehidupan yang berbeda?
Membandingkan seluruh perjalanan hidup dengan kehidupan orang lain adalah bentuk penilaian yang tidak sepenuhnya adil.
"Lantas, mengapa kita begitu sibuk mengejar kehidupan yang bukan milik kita?"
Pertanyaan tersebut sangat penting bagi kita. Karena kehidupan yang berjalan saat ini memiliki batas. Waktu akan terus berjalan, usia akan terus bertambah, dan setiap detik yang berlalu tidak akan dapat dikembalikan.
Ironisnya, manusia sering kali bertindak seolah-olah memiliki waktu yang tidak terbatas. Sementara kematian menunggu dengan pasti.
Kita mengejar harta seolah-olah kita akan hidup selamanya. Kita mengejar jabatan, seolah-olah dengan kedudukan tersebut kita akan hidup bahagia.Kita mengejar popularitas seolah-olah pengakuan manusia dapat memberikan kepastian. Bahkan terkadang kita mengorbankan waktu bersama orang-orang yang dicintai demi sesuatu yang pada akhirnya juga akan kita tinggalkan.
Lupakah kita, jika ada sesuatu yang selalu datang dengan PASTI? Lupakah kita, jika KEMATIAN akan datang? Malaikat maut akan menjemput, dan semua yang berhasil kita raih di dalam kehidupan ini akan di tinggalkan begitu saja.
Allah Ta'ala berfirman: {Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat kelak ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.} {Q.S Al-Hadid, ayat 20.}
Kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang sementara. Apa yang dimiliki oleh manusia pada akhirnya akan ditinggalkan. Harta, jabatan, prestasi, bahkan orang-orang yang dicintai tidak dapat ikut dibawa ketika kematian tiba.
Bukan berarti pencapaian duniawi tidak memiliki nilai. Kekayaan dapat digunakan untuk membantu orang lain. Jabatan dapat menjadi sarana untuk menegakkan keadilan. Pendidikan dapat digunakan untuk memberikan manfaat. Bahkan ambisi dapat menjadi sesuatu yang positif ketika diarahkan pada tujuan yang benar.
Persoalannya bukan tentang apakah manusia boleh mengejar dunia, melainkan "apakah manusia memahami apa yang sedang ia kejar."
Sering kali kita terlalu sibuk mengejar sesuatu hingga lupa bertanya pada diri kita sendiri. "Benarkah saat ini kita mengejar mutiara? atau justru kita hanya mengejar bayangan?"
Di tengah-tengah kita berlari mengejar sesuatu, pernahkah kita duduk sejenak. merenungkan semua yang saat ini kita lakukan? Pernahkah kita berhenti sejenak, menatap langit biru, menghela nafas dengan tenang. Bertanya pada diri kita sendiri.
"Untuk apa kekayaan jika seluruh hidup hanya digunakan untuk mengumpulkannya?"
"Untuk apa jabatan jika kekuasaan hanya membuat seseorang semakin jauh dari manusia lain?"
"Untuk apa popularitas jika seseorang kehilangan dirinya sendiri demi mendapatkan pengakuan?"
"Dan untuk apa mengejar kehidupan yang tampak sempurna jika dalam prosesnya saja kita kehilangan ketenangan untuk meraihnya?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan ajakan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, ia merupakan ajakan untuk mengevaluasi arah perjalanan.
Manusia tetap perlu bekerja, belajar, memiliki cita-cita, membangun karier, dan memperjuangkan masa depan. Namun, semua itu perlu ditempatkan dalam proporsi yang tepat. Dunia seharusnya menjadi tempat untuk menjalankan tanggung jawab, bukan menjadi satu-satunya tujuan keberadaan.
Sebab jika seluruh hidup hanya digunakan untuk mengejar sesuatu yang bersifat sementara, manusia berisiko menghabiskan hidupnya dalam perlombaan yang tidak akan pernah ada habisnya.
Mungkin karena itulah kita perlu sesekali berhenti. Memuhasabah diri.
Bukan untuk menyerah, tetapi untuk memastikan bahwa kita masih berjalan menuju arah yang benar. Memastikan kita tidak melepas mutiara dalam genggaman.
Sebab ada perbedaan besar antara berjalan menuju tujuan dan berlari tanpa tahu tujuan.
Kita mungkin tidak dapat menghindari berbagai pertanyaan dalam kehidupan. Kita juga tidak selalu mampu memahami mengapa sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana kita merespons kehidupan tersebut.
Tidak semua orang harus berjalan di jalan yang sama. Tidak semua keberhasilan harus memiliki bentuk yang sama. Dan tidak semua keterlambatan berarti sebuah kegagalan.
Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang siapa yang paling sukses, yang paling cepat sampai, paling banyak memiliki, atau paling tinggi berdiri di antara manusia lainnya. Kehidupan lebih dalam daripada sekadar perlombaan pencapaian.
Suatu hari nanti, ketika perjalanan dunia benar-benar berakhir, nafas tidak lagi berhambus, barulah kita menyesal telah melepas mutiara untuk mengejar sebuah bayangan. Ketika tidak ada lagi kesempatan barulah kita akan menyadari bahwa sebagian hal yang selama ini kita kejar ternyata hanyalah bayangan semata.
Ia tampak nyata ketika dikejar, tetapi menghilang ketika kita mencoba menggenggamnya.
Maka mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi, “Apa yang harus saya kejar?”
Melainkan:
“Jika suatu hari nanti semua yang berhasil saya raih harus ditinggalkan, lalu untuk apa sebenarnya saya menjalani kehidupan ini?”
Barangkali, dari pertanyaan itulah perjalanan untuk menemukan makna kehidupan benar-benar akan dimulai.
Jika akhirnya harus berlari, maka kemanakah kita harus melangkah?
maka berlarilah, kejarlah ilmu yang benar-benar memberikan manfaat, untuk diri sendiri maupun orang lain, yang dapat mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kejarlah kebaikan yang dapat meninggalkan jejak. Kejarlah kehidupan yang memiliki makna. Dan ketika dunia menawarkan begitu banyak hal untuk dikejar, jangan lupa berhenti, sesekali kita perlu menjeda langkah kita, melihat diri kita sendiri dan bertanya:
“Jika hari ini adalah akhir dari perjalanan, apakah hidup yang selama ini dijalani sudah benar-benar menuju tujuan yang benar?”
Karena pada akhirnya, kita semua akan sampai pada titik yang sama, titik dimana kita harus meninggalkan dunia ini dengan tangan kosong, tetapi membawa seluruh jejak pertanggung jawaban dari apa yang pernah kita kerjakan.
Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan dengan menghabiskan seluruh hidup hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak ada artinya.
Karena yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang berhasil untuk kita genggam, tetapi apa yang tetap bernilai ketika seluruhnya harus kita lepaskan.
Kelak, kita semua akan berhenti berlari. Dan ketika waktu itu tiba, semoga kita tidak mendapati bahwa sepanjang hidup yang dijalani hanya sibuk untuk mengejar bayangan, sementara lupa mencari jalan pulang kepada-Nya. Kita lupa mencari keridaan-Nya.
