Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaโah Terhadap Para Sahabat Nabi ๏ทบ
Aqidah Islam dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaโah terkait para sahabat Nabi ๏ทบ telah dirumuskan dengan sangat jelas oleh para ulama salaf. Di antara pernyataan yang paling masyhur dan menjadi rujukan utama adalah perkataan al-Imam Abu Jaโfar ath-Thahawi ุฑุญู ู ุงููู (wafat 321 H) dalam Aqidah Ath-Thahawiyyah. Beliau berkata:
โKami mencintai para sahabat Rasulullah ๏ทบ, dan kami tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka. Kami tidak berlepas diri dari seorang pun dari mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan yang menyebut mereka dengan keburukan. Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman, dan ihsan. Membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan, dan sikap melampaui batas.โ
(Syarh Aqidah Ath-Thahawiyyah, hlm. 467)
Pernyataan ini menjadi kaidah agung dalam aqidah Ahlus Sunnah tentang sahabat, sekaligus pembeda antara Ahlus Sunnah dan ahlul bidโah.
Sikap dan Etika Ahlus Sunnah Terhadap Para Sahabat
1. Mencintai Para Sahabat dengan Hati dan Lisan
Mencintai para sahabat merupakan bagian dari iman. Bahkan, mencintai mereka adalah konsekuensi dari kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena Allah sendiri telah meridhai mereka.
Allah Taโala berfirman:
๏ดฟุฑูุจููููู ู ููุจูุดููุฑูููู ุจูุฑูุญูู ูุฉู ู ูููููู ููุฑูุถูููุงูู ููุฌููููุงุชู ูููููู ู ูููููุง ููุนููู ู ู ูููููู ู๏ดพ
โRabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.โ
(QS. At-Taubah [9]: 21)
Al-Imam Malik bin Anas ุฑุญู ู ุงููู berkata:
โDahulu para salaf mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajarkan surat-surat dalam Al-Qurโan.โ
(Syarh Ushul Iโtiqad Ahlis Sunnah wal Jamaโah, al-Lalikaโi, 7/1240)
Ini menunjukkan bahwa mencintai para sahabat bukan perkara sampingan, tetapi bagian dari pendidikan aqidah.
2. Mendoakan Rahmat dan Ampunan untuk Para Sahabat
Ahlus Sunnah wal Jamaโah senantiasa mendoakan para sahabat dan memohonkan ampunan untuk mereka, sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qurโan.
Allah Taโala berfirman:
๏ดฟููุงูููุฐูููู ุฌูุงุกููุง ู ูู ุจูุนูุฏูููู ู ูููููููููู ุฑูุจููููุง ุงุบูููุฑู ููููุง ููููุฅูุฎูููุงููููุง ุงูููุฐูููู ุณูุจููููููุง ุจูุงููุฅููู ูุงูู ููููุง ุชูุฌูุนููู ููู ูููููุจูููุง ุบููููุง ููููููุฐูููู ุขู ููููุง ุฑูุจููููุง ุฅูููููู ุฑูุกูููู ุฑููุญููู ู๏ดพ
โDan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) berkata: โYa Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau menjadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.โโ
(QS. Al-Hasyr [59]: 10)
Oleh karena itu, setiap kali Ahlus Sunnah menyebut nama sahabat Nabi ๏ทบ, mereka mengiringinya dengan doa radhiyallahu โanhu (semoga Allah meridhainya).
3. Menahan Lisan dari Membicarakan Kesalahan Sahabat
Ahlus Sunnah wal Jamaโah menahan lisan dari membicarakan kesalahan para sahabat, terlebih lagi mencela mereka. Hal ini karena kesalahan sahabat sangat sedikit dibandingkan kebaikan dan keutamaan mereka yang begitu besar. Selain itu, kesalahan mereka lahir dari ijtihad yang diampuni oleh Allah.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
๏ดฟููุง ุชูุณูุจูููุง ุฃูุตูุญูุงุจููุ ููููุงูููุฐูู ููููุณูู ุจูููุฏูููุ ูููู ุฃูููู ุฃูุญูุฏูููู ู ุฃููููููู ู ูุซููู ุฃูุญูุฏู ุฐูููุจูุงุ ู ูุง ุจูููุบู ู ูุฏูู ุฃูุญูุฏูููู ู ููููุง ููุตูููููู๏ดพ
โJanganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, dan tidak pula setengahnya.โ
(HR. Al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)
Rasulullah ๏ทบ juga bersabda:
๏ดฟุฅูุฐูุง ุฐูููุฑู ุฃูุตูุญูุงุจูู ููุฃูู ูุณููููุง๏ดพ
โApabila sahabat-sahabatku disebutkan, maka tahanlah lisan kalian.โ
(Hadits shahih, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 34)
Al-Munawi ุฑุญู ู ุงููู berkata:
โMaksudnya adalah apa yang terjadi di antara mereka berupa peperangan dan perselisihan. Maka wajib menahan diri dari mencela mereka dan membicarakan mereka dengan perkataan yang tidak pantas, karena mereka adalah sebaik-baik umat.โ
(Faidhul Qadir, 1/347)
Inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaโah terhadap para sahabat Nabi ๏ทบ: mencintai mereka, mendoakan mereka, dan menahan lisan dari mencela atau merendahkan kedudukan mereka. Aqidah ini dibangun di atas Al-Qurโan, Sunnah, dan pemahaman para salaf, serta menjadi benteng dari penyimpangan kelompok-kelompok yang mencela sahabat Rasulullah ๏ทบ.
