Bismillah
Di zaman ini, kaum muslimin hidup di tengah banyaknya kelompok, pemikiran, metode dakwah, dan berbagai macam pemahaman agama yang saling mengklaim paling benar. Sebagian mengedepankan logika, sebagian mendahulukan perasaan, sebagian lagi lebih fanatik kepada tokoh atau kelompok dibandingkan dalil.
Di tengah kondisi seperti ini, sering terdengar istilah “manhaj salaf”, “salafi”, atau “salafiyah”. Ada yang menerimanya dengan baik, ada pula yang menolaknya karena belum memahami hakikat sebenarnya.
Padahal, pembahasan tentang manhaj salaf bukanlah pembahasan organisasi baru, aliran modern, ataupun kelompok sempalan. Ia adalah pembahasan tentang bagaimana memahami Islam sebagaimana dipahami oleh generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi ﷺ dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. (Muslim.or.id)
Karena itu, memahami manhaj salaf termasuk perkara penting bagi setiap muslim yang ingin mencari kebenaran dan keselamatan dalam beragama.
Apa Arti Manhaj dan Salaf?
Makna Manhaj
Kata manhaj secara bahasa berarti jalan yang terang, metode, atau cara beragama yang jelas untuk ditempuh.
Allah Ta’ala berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk setiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”
(QS. Al-Ma’idah: 48)
Para ulama menjelaskan bahwa manhaj adalah metode seseorang dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan agama.
Makna Salaf
Adapun kata salaf secara bahasa berarti orang-orang terdahulu atau pendahulu. Dalam istilah para ulama, salaf adalah generasi awal umat Islam yang mendapatkan pujian dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Mereka mencakup:
Para sahabat Nabi ﷺ
Tabi’in
Tabi’ut tabi’in
Inilah tiga generasi terbaik umat Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.”
Hadits ini diriwayatkan oleh:
Shahih Al-Bukhari
Shahih Muslim
Hadits ini menjadi dalil utama bahwa pemahaman generasi awal Islam adalah pemahaman terbaik.
Apa Itu Manhaj Salaf?
Manhaj salaf adalah metode beragama yang berpegang kepada:
Al-Qur’an
Sunnah Nabi ﷺ
Pemahaman para sahabat dan generasi terbaik umat
Bukan sekadar mengaku mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, karena semua kelompok juga mengklaim demikian. Yang menjadi pembeda adalah: bagaimana cara memahami Al-Qur’an dan Sunnah tersebut.
Manhaj salaf menegaskan bahwa pemahaman agama harus dikembalikan kepada pemahaman para sahabat Nabi ﷺ. Sebab mereka adalah generasi yang:
Paling memahami bahasa Arab
Menyaksikan turunnya wahyu
Belajar langsung dari Rasulullah ﷺ
Paling ikhlas dan paling benar agamanya
Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menunjukkan bahwa jalan keselamatan adalah mengikuti para sahabat dengan baik.
Mengapa Harus Mengikuti Manhaj Salaf?
1. Karena Mereka Generasi Terbaik
Para sahabat dipilih langsung oleh Allah untuk mendampingi Nabi ﷺ. Mereka rela mengorbankan harta, jiwa, bahkan nyawa demi menegakkan Islam.
Tidak ada generasi setelah mereka yang mampu menandingi keutamaan tersebut.
Imam Malik bin Anas رحمه الله berkata:
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa solusi kerusakan umat adalah kembali kepada pemahaman generasi awal Islam.
2. Karena Pemahaman Salaf Lebih Selamat
Banyak penyimpangan dalam agama muncul ketika manusia mendahulukan:
akal di atas wahyu,
perasaan di atas dalil,
filsafat di atas sunnah,
atau fanatisme kelompok di atas kebenaran.
Akibatnya muncullah berbagai penyimpangan aqidah dan ibadah.
Manhaj salaf mengajarkan agar seluruh agama dibangun di atas dalil shahih dengan pemahaman para ulama terdahulu. (Muslim.or.id)
Allah Ta’ala berfirman:
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
“Jika mereka beriman sebagaimana kalian telah beriman, sungguh mereka telah mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah: 137)
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan petunjuk yang benar adalah iman seperti imannya para sahabat Nabi ﷺ.
3. Karena Manhaj Salaf Menjaga Persatuan Umat
Banyak perpecahan terjadi karena manusia meninggalkan sunnah Nabi ﷺ dan pemahaman para sahabat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ
“Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.”
Hadits riwayat:
Sunan Abu Dawud
Jami' At-Tirmidzi
Nabi ﷺ juga mengabarkan bahwa umat ini akan terpecah menjadi banyak golongan, dan yang selamat hanyalah yang mengikuti jalan beliau dan para sahabatnya.
Manhaj Salaf Bukan Kelompok Baru
Salah satu syubhat yang sering disebarkan adalah tuduhan bahwa salafiyah merupakan kelompok baru dalam Islam.
Padahal istilah salafi hanyalah penisbatan kepada salafus shalih, yaitu generasi awal Islam. (Muslim.or.id)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“Tidak tercela bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya.”
Karena hakikat salafiyah adalah mengikuti Islam yang murni sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ dan dipahami para sahabatnya.
Ciri-Ciri Dakwah Manhaj Salaf
1. Fokus Kepada Tauhid
Dakwah salaf sangat menekankan tauhid dan memerangi segala bentuk syirik.
Para nabi memulai dakwah mereka dengan tauhid sebelum perkara lainnya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul agar mereka beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi thaghut.”
(QS. An-Nahl: 36)
2. Menghidupkan Sunnah
Manhaj salaf mengajarkan agar ibadah dilakukan sesuai tuntunan Nabi ﷺ, bukan sekadar tradisi turun-temurun.
Karena itu mereka sangat perhatian terhadap:
keaslian hadits,
tata cara ibadah,
dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.
3. Menjauhi Bid’ah
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Setiap bid’ah adalah kesesatan.”
Hadits riwayat:
Shahih Muslim
Karena itu dakwah salaf sangat berhati-hati terhadap amalan yang tidak memiliki dalil.
4. Mengutamakan Ilmu
Di antara ciri paling menonjol dari manhaj salaf adalah perhatian besar terhadap ilmu syar’i. (Muslim.or.id)
Mereka memahami bahwa semangat tanpa ilmu akan menimbulkan kerusakan.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ
“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas ilmu.”
(QS. Yusuf: 108)
Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari رحمه الله bahkan membuat bab dalam Shahih beliau:
“Ilmu sebelum berkata dan beramal.”
Sikap Manhaj Salaf Terhadap Ulama
Manhaj salaf mengajarkan penghormatan kepada ulama, namun tidak fanatik buta kepada individu tertentu.
Kebenaran tetap diukur dengan dalil.
Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i رحمه الله berkata:
“Apabila hadits itu shahih maka itulah madzhabku.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa seluruh imam besar mengajak manusia kembali kepada dalil, bukan fanatik kepada tokoh.
Kesalahpahaman Tentang Salafiyah
“Salafi Itu Wahabi”
Istilah ini sering digunakan untuk menakut-nakuti kaum muslimin.
Padahal dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله hanyalah dakwah tauhid dan kembali kepada Al-Qur’an serta Sunnah sesuai pemahaman salaf.
“Salafi Anti Madzhab”
Ini juga tidak benar.
Ulama salaf menghormati imam-imam madzhab seperti:
Imam Abu Hanifah
Imam Malik
Imam Syafi’i
Imam Ahmad
Namun mereka tidak membolehkan fanatisme buta yang menolak dalil shahih.
“Salafi Memecah Belah”
Justru perpecahan terjadi ketika manusia meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Adapun manhaj salaf mengajak kaum muslimin bersatu di atas dalil dan pemahaman sahabat Nabi ﷺ.
Bahaya Meninggalkan Manhaj Salaf
Ketika umat meninggalkan pemahaman salaf, muncullah:
bid’ah,
khurafat,
syirik,
fanatisme golongan,
pemikiran menyimpang,
hingga ekstremisme dalam agama.
Karena itu para ulama sangat keras memperingatkan agar umat tidak meninggalkan jalan generasi awal Islam.
Imam Al-Auza'i رحمه الله berkata:
“Bersabarlah di atas sunnah. Berhentilah sebagaimana kaum salaf berhenti.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa keselamatan ada pada mengikuti jejak para salafus shalih.
Penutup
Manhaj salaf bukan sekadar slogan, bukan pula identitas kelompok semata. Ia adalah metode memahami Islam sebagaimana dipahami generasi terbaik umat ini.
Di tengah banyaknya syubhat dan penyimpangan, seorang muslim membutuhkan timbangan yang benar agar tidak tersesat. Timbangan itu adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman salafus shalih.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An’am: 153)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah di atas sunnah Nabi ﷺ dan pemahaman para sahabat beliau. Aamiin. (Muslim.or.id)
