Flexing dan Budaya Pamer
Bismillah, Di era media sosial yang serba visual, fenomena flexing atau pamer kekayaan. Gaya hidup, dan pencapaian pribadi telah menjadi budaya yang nyaris dianggap wajar. Linimasa dipenuhi dengan unggahan mobil mewah, perjalanan wisata ke luar negeri, tas bermerek. Hingga pencapaian akademis atau karier yang dipamerkan secara terbuka. Istilah flexing sendiri berasal dari bahasa Inggris yang berarti memamerkan sesuatu dengan tujuan mendapatkan pengakuan atau pujian dari orang lain. Dalam pandangan Islam, sikap seperti ini bukan sekedar persoalan gaya hidup, melainkan menyentuh wilayah hati yang paling fundamental: keikhlasan dan ketauhidan.
Islam tidak melarang seseorang memiliki harta atau menikmati kesuksesan.
Namun, syariat memberikan batasan yang tegas tentang bagaimana seorang muslim membawa diri di hadapan manusia. Sikap pamer atau yang dalam bahasa Arab disebut riya' dan sum'ah adalah penyakit hati yang berbahaya. Karena menggerogoti nilai ibadah dan mendekatkan seseorang pada syirik kecil. Artikel ini akan menguraikan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah serta penjelasan para ulama tentang hakikat flexing dan bagaimana syariat memandang budaya pamer.
Hakikat Flexing dalam Pandangan Islam
Flexing pada dasarnya adalah bentuk riya' yang diwadahi oleh teknologi modern. Riya' secara bahasa berarti memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, namun secara istilah syar'i bermakna menampakkan amal atau nikmat dengan tujuan agar dipuji, dihormati, atau diakui oleh manusia. Ketika seseorang mengunggah foto barang mewah atau pencapaian pribadi dengan maksud agar orang lain terkesan. Pada saat itulah ia sedang mempraktikkan riya' dalam bentuk yang sangat halus namun nyata. Allah Subhanahu wa Ta'ala mencela sikap riya' dalam banyak ayat. Salah satu yang paling tegas adalah firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 264.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekah-sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya' kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.
Maka perumpamaannya seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat. Maka tinggallah batu itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir." Ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa amal yang dicampuri riya' akan kehilangan nilainya di sisi Allah, seakan-akan tidak pernah dilakukan sama sekali.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia tidak akan mendapatkan pahala dari amalnya.
Beliau menukil penjelasan bahwa amalan tersebut menjadi sia-sia karena tujuan utamanya bukanlah mencari ridha Allah, melainkan mencari pandangan manusia (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, tafsir QS. Al-Baqarah: 264).
Dalil-Dalil yang Mencela Sikap Pamer
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat khawatir terhadap umatnya dari penyakit riya'. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Mahmud bin Labid radhiyallahu 'anhu, beliau mengungkapkan rasa takutnya terhadap apa yang disebut sebagai syirik kecil. ### Hadits tentang Riya' sebagai Syirik Kecil
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesuatu yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya'." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (5/428) dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (No. 32).
Syaikh Al-Albani rahimahullah menegaskan bahwa riya' disebut syirik kecil karena pelakunya masih tetap muslim. Namun dosanya sangat besar dan dapat menghapus amal yang dicampurinya. Sementara itu, sum'ah adalah bentuk pamer yang dilakukan melalui ucapan. Jika riya' dilakukan dengan menampakkan amal atau kelebihan kepada mata manusia, maka sum'ah dilakukan dengan memperdengarkan sesuatu kepada telinga manusia agar mendapat pujian.
Di era media sosial, keduanya sering berjalan beriringan: foto yang dipamerkan adalah riya'. Sementara narasi yang menyertainya adalah sum'ah. ### Hadits tentang Ancaman bagi Pelaku Riya' dan Sum'ah
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya (sum'ah), maka Allah akan memperdengarkan keburukannya, dan barangsiapa yang pamer (riya'), maka Allah akan membeberkan keburukannya." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (No. 2986) dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Allah akan membalas perbuatan tersebut dengan cara mempermalukan pelakunya di hadapan makhluk, sehingga apa yang ia cari berupa pujian justru berbalik menjadi kehinaan. Ada pula hadits qudsi yang sangat menyentuh hati tentang bagaimana Allah memandang amal yang dicampuri riya'.
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dari Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa Dia berfirman, "Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu di antara para sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal, lalu ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amal itu. Maka Aku tinggalkan ia bersama sekutunya." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (No. 2985) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Maknanya sangat tegas: Allah tidak akan menerima amal yang dicampuri riya', karena amal tersebut bukan lagi murni untuk-Nya.
Bahaya Flexing bagi Keikhlasan dan Amal
Flexing bukan hanya membatalkan amal. Tetapi juga merusak hati secara perlahan. Seseorang yang terbiasa memamerkan kelebihannya akan semakin terikat dengan penilaian manusia. Ia akan merasa gelisah jika unggahannya tidak mendapat cukup banyak tanda suka atau komentar pujian. Kondisi ini pada akhirnya membuat kebahagiaan dan ketenangan hati bergantung kepada makhluk, bukan kepada Allah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mencela orang yang memakai pakaian dengan tujuan untuk mencari ketenaran.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau bersabda, "Barangsiapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memberinya pakaian kehinaan pada hari kiamat." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (No. 4029) dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Pakaian syuhrah adalah pakaian yang dimaksudkan untuk menarik perhatian orang lain. Baik karena terlalu mewah maupun terlalu lusuh. Jika pakaian saja demikian, maka pamer harta, kendaraan, dan gaya hidup mewah di media sosial tentu lebih layak untuk diwaspadai. Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa menekankan bahwa riya' termasuk dalam kategori syirik kecil. Karena pelakunya telah menjadikan makhluk sebagai tujuan amalnya, meskipun ia masih beriman kepada Allah. Beliau juga mengingatkan bahwa riya' adalah pintu yang sangat halus dan luas, sehingga seorang muslim perlu terus-menerus memeriksa niatnya.
Menjaga Hati di Era Media Sosial
Di tengah arus digital yang menyediakan panggung tanpa batas. Menjaga keikhlasan menjadi tantangan besar. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa hati yang sehat adalah hati yang selalu berusaha memurnikan amal hanya untuk Allah dan tidak bergantung kepada pandangan manusia. Beliau menganjurkan untuk menyembunyikan amal kebaikan sebagaimana seseorang menyembunyikan aibnya. Kecuali jika ada maslahat syar'i yang mengharuskan untuk menampakkannya. Namun, bukan berarti seorang muslim harus menjauhi media sosial sepenuhnya. Yang dituntut adalah mengendalikan niat dan membatasi diri dari keinginan untuk dipuji.
Hadits pertama yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu memberikan prinsip dasar: "Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.
" Sebelum mengunggah sesuatu, seorang muslim perlu bertanya pada dirinya sendiri, "Apa yang sebenarnya aku cari dari unggahan ini?
Para ulama menjelaskan bahwa menampakkan nikmat Allah untuk bersyukur atau memberikan contoh yang baik kepada orang lain hukumnya boleh, bahkan bisa bernilai pahala jika niatnya benar. Namun, jika niat yang dominan adalah ingin dipuji atau diakui, maka di situlah letak bahayanya.
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam banyak fatwanya menekankan bahwa seorang muslim harus selalu meluruskan niat, karena amal yang baik bisa berubah menjadi dosa apabila niatnya rusak.
Kesadaran akan kehadiran Allah adalah benteng yang paling kokoh. Ketika seorang muslim menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya, ia akan merasa malu untuk mencari perhatian makhluk atas apa yang seharusnya ia persembahkan hanya untuk Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS.
An-Nisa ayat 36 hingga 38, yang artinya, "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun...
dan orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia, padahal mereka tidak beriman kepada Allah dan hari akhir." Ayat ini menempatkan riya' sebagai lawan dari keimanan yang sejati.
Syaikh As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa orang yang beramal karena riya' kepada manusia berarti telah menggantungkan amalnya kepada makhluk yang tidak mampu memberikan balasan sedikit pun.
Mereka hanya akan mendapatkan kelelahan dan penyesalan, karena di akhirat amal yang mereka kira besar justru tidak bernilai sama sekali.
Pada akhirnya, flexing adalah cermin dari hati yang sedang diuji. Islam tidak pernah melarang seseorang untuk sukses, kaya, atau berprestasi. Yang dilarang adalah menjadikan kesuksesan dan kekayaan itu sebagai alat untuk meninggikan diri di hadapan manusia.
Menyimpan niat yang lurus, menyadari bahwa segala nikmat hanyalah titipan, dan memahami bahwa pujian manusia tidak akan memberikan apa-apa di hari akhir adalah kunci untuk selamat dari jebakan budaya pamer.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membersihkan hati kita dari penyakit riya' dan sum'ah. Serta menjadikan setiap amal dan nikmat yang kita miliki sebagai sarana untuk semakin dekat kepada-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.
