Semua Penulis
Yulianto abu Hanna

Yulianto abu Hanna

artikel-islam

12

Artikel Terbit

30.669

Total Dilihat

2026

Menulis Sejak

LPT Salman Al Farisi & Mumtaz Islamic SchoolLembagaGuru: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwaz

“Menulis agama itu mudah untuk ditulis, tetapi berat untuk dipertanggungjawabkan; maka tulislah dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu.” Menulis agama itu sebetulnya antara mudah dan susah. Mudahnya, karena seorang penulis agama bukan sedang menciptakan ajaran baru. Tugasnya adalah menyampaikan apa yang sudah Allah turunkan dalam Al-Qur'an, apa yang datang dari Rasulullah ﷺ dalam hadits, serta penjelasan para ulama yang dapat dipertanggungjawabkan sumbernya. Dalam arti ini, penulis lebih banyak "menyalin" kebenaran daripada mengarang isi agama. Justru karena itu, seorang penulis tidak boleh sembarangan berbicara atas nama Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda: "Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4) Ancaman ini menunjukkan bahwa mengarang hadits atau menisbatkan sesuatu kepada Nabi ﷺ tanpa kebenaran bukanlah perkara ringan. Lalu, di mana letak susahnya? Susahnya ada pada amanahnya. Setiap dalil harus dicek sumbernya. Setiap hadits harus dipastikan penyandarannya. Setiap kutipan ulama harus jelas rujukannya, jangan sampai ucapan yang tidak jelas asalnya dinisbatkan kepada mereka. Belum lagi, penulis harus berusaha menempatkan dalil pada pembahasan yang tepat agar tidak keluar dari makna yang benar. Karena itu, menulis agama bukan sekadar pandai merangkai kata. Yang lebih dibutuhkan adalah rasa takut kepada Allah ketika menulis, ketelitian ketika mengambil dalil, dan kerendahan hati untuk terus belajar sebelum menyampaikan ilmu kepada orang lain.