ุฅูููู ุงููุญูู
ูุฏู ูููููููุ ููุญูู
ูุฏููู ููููุณูุชูุนูููููู ููููุณูุชูุบูููุฑูููุ ููููุนููุฐู ุจูุงูููููู ู
ููู ุดูุฑููุฑู ุฃูููููุณูููุง ููู
ููู ุณููููุฆูุงุชู ุฃูุนูู
ูุงููููุงุ ู
ููู ููููุฏููู ุงูููููู ููููุง ู
ูุถูููู ููููุ ููู
ููู ููุถููููู ููููุง ููุงุฏููู ูููู.
ููุฃูุดูููุฏู ุฃููู ููุง ุฅูููฐูู ุฅููููุง ุงูููููู ููุญูุฏููู ููุง ุดูุฑูููู ููููุ ููุฃูุดูููุฏู ุฃูููู ู
ูุญูู
ููุฏูุง ุนูุจูุฏููู ููุฑูุณูููููู.
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขู
ููููุง ุงุชูููููุง ุงูููููู ุญูููู ุชูููุงุชููู ููููุง ุชูู
ููุชูููู ุฅููููุง ููุฃูููุชูู
ู ู
ูุณูููู
ูููู
(QS. Ali โImran: 102)
ููุง ุฃููููููุง ุงููููุงุณู ุงุชูููููุง ุฑูุจููููู
ู ุงูููุฐูู ุฎูููููููู
ู ู
ููู ููููุณู ููุงุญูุฏูุฉู ููุฎููููู ู
ูููููุง ุฒูููุฌูููุง ููุจูุซูู ู
ูููููู
ูุง ุฑูุฌูุงููุง ููุซููุฑูุง ููููุณูุงุกู ููุงุชูููููุง ุงูููููู ุงูููุฐูู ุชูุณูุงุกูููููู ุจููู ููุงููุฃูุฑูุญูุงู
ู ุฅูููู ุงูููููู ููุงูู ุนูููููููู
ู ุฑููููุจูุง
(QS. An-Nisa: 1)
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขู
ููููุง ุงุชูููููุง ุงูููููู ููููููููุง ููููููุง ุณูุฏููุฏูุง
ููุตูููุญู ููููู
ู ุฃูุนูู
ูุงููููู
ู ููููุบูููุฑู ููููู
ู ุฐููููุจูููู
ู ููู
ููู ููุทูุนู ุงูููููู ููุฑูุณูููููู ููููุฏู ููุงุฒู ููููุฒูุง ุนูุธููู
ูุง
(QS. Al-Ahzab: 70โ71)
ุฃูู
ููุง ุจูุนูุฏูุ ููุฅูููู ุฃูุตูุฏููู ุงููุญูุฏููุซู ููุชูุงุจู ุงููููููุ ููุฎูููุฑู ุงููููุฏููู ููุฏููู ู
ูุญูู
ููุฏู ๏ทบุ ููุดูุฑูู ุงููุฃูู
ููุฑู ู
ูุญูุฏูุซูุงุชูููุงุ ููููููู ู
ูุญูุฏูุซูุฉู ุจูุฏูุนูุฉูุ ููููููู ุจูุฏูุนูุฉู ุถูููุงููุฉู
(HR. Muslim no. 867)
Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Adapun setelah itu, maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ๏ทบ, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara baru adalah bidโah, dan setiap bidโah adalah kesesatan.
Masalah tabarruk dengan kuburan orang shalih merupakan salah satu persoalan aqidah yang sering disalahpahami oleh kaum muslimin. Tidak sedikit yang mengira bahwa mendatangi kuburan wali, mengusap nisan, mengambil tanah kubur, atau meyakini adanya limpahan keberkahan dari orang yang telah wafat merupakan bentuk kecintaan dan penghormatan terhadap orang-orang shalih.
Padahal, aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaโah dibangun di atas dalil, bukan perasaan, cerita, atau tradisi turun-temurun. Setiap bentuk ibadahโtermasuk tabarrukโharus memiliki landasan yang jelas dari Al-Qurโan dan Sunnah yang shahih, serta dipahami sebagaimana pemahaman para sahabat Nabi ๏ทบ dan para ulama Salaf.
Lebih berbahaya lagi, praktik tabarruk dengan kuburan sering kali menjadi pintu masuk kepada ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang shalih, yang pada akhirnya dapat menyeret kepada kesyirikan, sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.
Oleh karena itu, pembahasan ini akan menguraikan secara rinci hukum tabarruk dengan kuburan orang shalih, dengan menampilkan dalil-dalil shahih, penjelasan ulama Salaf, serta contoh-contoh praktik keliru yang wajib dihindari agar seorang muslim selamat aqidahnya dan tidak tertipu oleh ajaran-ajaran yang menyimpang.
Pengertian Tabarruk
Secara bahasa
Tabarruk berasal dari kata ุงูุจุฑูุฉ (al-barakah) yang bermakna banyaknya kebaikan dan tetapnya kebaikan.
Secara istilah syarโi
Tabarruk adalah mencari keberkahan dari sesuatu dengan keyakinan bahwa Allah menjadikan keberkahan pada sesuatu tersebut.
Kaidah penting:
Asal dalam tabarruk adalah tawaqquf (berhenti) sampai ada dalil.
Prinsip Dasar Tabarruk dalam Islam
1. Keberkahan hanya dari Allah
Allah berfirman:
๏ดฟุชูุจูุงุฑููู ูฑูููุฐูู ุจูููุฏููู ูฑููู
ููููู๏ดพ
โMaha Suci Allah Yang di tangan-Nya segala kerajaan.โ
(QS. Al-Mulk: 1)
Semua keberkahan bukan dari zat makhluk, tetapi dari Allah semata.
2. Tabarruk Harus Ada Dalil
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah ุฑุญู ู ุงููู berkata:
โTidak boleh menetapkan sesuatu sebagai sebab kecuali dengan dalil syarโi atau dalil kauni.โ
(Majmuโ Al-Fatawa, 1/346)
Kuburan tidak pernah ditetapkan sebagai sebab keberkahan dalam Al-Qurโan dan Sunnah.
Tabarruk yang Disyariatkan
1. Tabarruk dengan Rasulullah ๏ทบ (khusus di masa hidup beliau)
Para sahabat bertarruk dengan Nabi ๏ทบ dalam hal-hal yang memang ditetapkan dalilnya, seperti rambut, air wudhu, dan keringat beliau.
Hadits Anas ุฑุถู ุงููู ุนูู:
โAku melihat Rasulullah ๏ทบ dicukur dan para sahabat berebut mengambil rambutnya.โ
(HR. Muslim no. 1305)
Hadits ini khusus untuk Nabi ๏ทบ, dan tidak ada satu pun sahabat yang melakukan hal serupa kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, atau Ali.
Ibn Taimiyyah berkata:
โPara sahabat tidak pernah bertabarruk dengan selain Nabi ๏ทบ.โ
(Majmuโ Al-Fatawa, 27/79)
2. Tabarruk dengan amal shalih
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
โSesungguhnya amal shalih itulah yang akan menyelamatkan.โ
(HR. Bukhari no. 6463, Muslim no. 2816)
Hukum Bertabaruk dengan Kuburan Orang Shalih
Kesimpulan hukum: HARAM dan merupakan sarana menuju syirik
Tidak ada satu pun dalil shahih yang membolehkan tabarruk dengan kuburan orang shalih, baik dengan:
- Menyentuh kuburan
- Mengusap nisan
- Duduk di atasnya untuk berkah
- Mengambil tanah kubur
- Mengusap kain penutup kubur
- Mengusap pagar atau bangunan kubur
Hadits-Hadits Shahih yang Melarang Pengkultusan Kuburan
1. Larangan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
โAllah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.โ
(HR. Bukhari no. 1330, Muslim no. 529)
Ini adalah peringatan keras agar umat Islam tidak menempuh jalan mereka.
2. Larangan shalat menghadap kuburan
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
โJanganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadapnya.โ
(HR. Muslim no. 972)
Jika shalat saja dilarang menghadap kuburan, bagaimana dengan mengusap dan mencari berkah darinya?
3. Larangan mengagungkan kuburan
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
โJanganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan.โ
(HR. Abu Dawud no. 2042, shahih menurut Al-Albani)
4. Penegasan bahaya ghuluw terhadap orang shalih
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
โJanganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan terhadap Isa bin Maryam.โ
(HR. Bukhari no. 3445)
Contoh-Contoh Tabarruk yang Keliru (dan Hukumnya)
1. Mengusap kuburan wali atau habib
Bidโah dan sarana syirik
Tidak pernah dilakukan oleh para sahabat.
2. Mengambil tanah kuburan untuk berkah
Perbuatan bathil dan khurafat
Tidak ada dalil, dan menyerupai keyakinan jahiliyah.
3. Mengusap kain penutup kubur
Bidโah munkarah
Syaikh Bin Baz ุฑุญู ู ุงููู berkata:
โMengusap kuburan dan mengambil berkah darinya adalah bidโah dan sarana menuju syirik.โ
(Majmuโ Fatawa Ibn Baz, 13/337)
4. Keyakinan โbarakah wali menyebar dari kuburannyaโ
Keyakinan batil
Allah berfirman:
๏ดฟุฅูููููู ููุง ุชูุณูู
ูุนู ูฑููู
ูููุชูููฐ๏ดพ
โSesungguhnya engkau tidak dapat memperdengarkan orang-orang yang mati.โ
(QS. An-Naml: 80)
Penjelasan Ulama Salaf
Imam Malik ุฑุญู ู ุงููู
Ketika ditanya tentang mengusap kubur Nabi ๏ทบ, beliau berkata:
โTidak ada yang mendatangkan keberkahan kecuali apa yang disyariatkan.โ
(Diriwayatkan oleh Al-Qadhi โIyadh)
Syaikh Al-Albani ุฑุญู ู ุงููู
โTabarruk dengan kuburan adalah bidโah yang tidak ada asalnya dan merupakan jalan menuju syirik.โ
(Ahkam Al-Janaโiz, hlm. 258)
Syaikh Ibn Utsaimin ุฑุญู ู ุงููู
โBarang siapa bertabarruk dengan kuburan maka ia telah membuka pintu syirik.โ
(Majmuโ Fatawa Ibn Utsaimin, 2/238)
Kesimpulan Akidah Ahlus Sunnah
- Tabarruk adalah ibadah โ harus ada dalil
- Tidak ada dalil shahih tentang tabarruk dengan kuburan
- Para sahabat tidak pernah melakukannya
- Ulama Salaf mengingkarinya
- Praktik ini adalah bidโah dan sarana syirik
- Menyebarkannya atas nama wali atau habib adalah penyesatan umat
Penutup
Keselamatan aqidah lebih utama daripada mengikuti tokoh, tradisi, atau klaim karamah. Kebenaran diukur dengan dalil, bukan dengan siapa yang berbicara.
โIkutilah dan jangan berbuat bidโah, sungguh kalian telah dicukupkan.โ
(Ibn Masโud ุฑุถู ุงููู ุนูู, diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 211)
Semoga Allah menjaga kita dari ghuluw, bidโah, dan syirik, serta meneguhkan kita di atas manhaj Salafus Shalih.
Ingatlah perkataan sahabat Nabi ๏ทบ, yakni, Abdullah bin Masโud ุฑุถู ุงููู ุนูู, ketika beliau mengingkari suatu amalan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat.
ุงุชููุจูุนููุง ููููุง ุชูุจูุชูุฏูุนููุง ููููุฏู ูููููุชูู ูุ ููุฅูููููู ูููู ููุงูู ุฎูููุฑูุง ููุณูุจููููููุง ุฅููููููู
โIkutilah (ajaran Nabi dan sahabat), dan jangan berbuat bidโah, sungguh kalian telah dicukupkan. Karena seandainya perkara itu baik, niscaya mereka telah mendahului kita melakukannya.โ (HR. Ad-Darimi no. 211, sanadnya shahih)
ุจุงุฑู ุงููู ูููู
Ditulis Oleh: Yulianto Abu Hanna, pada 2 Syaban 1447, Saat mendapat waktu luang.
