Pada pembahasan ini, tulisan dilanjutkan kepada bentuk keyakinan keliru yang lainnya, yaitu menisbahkan turunnya hujan kepada bintang. Pembahasan ini penting karena ia termasuk perkara jahiliyah yang masih tersisa pada sebagian umat sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah ﷺ.
Hakikat Bintang dalam Aqidah Islam
Bintang-bintang adalah makhluk Allah yang tunduk sepenuhnya kepada aturan-Nya. Allah-lah yang menentukan orbit, waktu terbit dan tenggelamnya, serta peredarannya yang tetap dan konstan. Bintang tidak memiliki iradah, kehendak, ataupun kemampuan untuk menciptakan dan mengatur kejadian di alam semesta.Secara logika, kejadian di bumi sangat banyak dan terus berubah setiap saat, sedangkan pergerakan bintang terbatas dan tetap. Hal ini saja sudah cukup menunjukkan batilnya keyakinan bahwa bintang menentukan kejadian alam, termasuk turunnya hujan.
Rujukan
Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, jilid 1 hlm. 90–92
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jilid 7 hlm. 515
Menisbahkan Turunnya Hujan kepada Bintang: Bentuk dan Hukumnya
Menisbahkan hujan kepada bintang terjadi dalam dua bentuk ungkapan yang berbeda, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri.Bentuk Pertama: Menggunakan Huruf “Ba” (Dengan)
Contohnya ucapan, “Kami diberi hujan dengan bintang ini atau bintang itu.”Ungkapan ini memiliki dua kemungkinan keyakinan.
Kemungkinan pertama, meyakini bahwa bintang ikut menurunkan hujan bersama Allah atau memiliki pengaruh hakiki dalam turunnya hujan. Keyakinan ini termasuk syirik akbar dalam rububiyah, karena menetapkan adanya pengatur selain Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam.
Ini serupa dengan keyakinan kaum penyembah benda langit yang dihadapi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang meyakini matahari, bulan, dan bintang sebagai pengatur alam.
Rujukan
Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, jilid 3 hlm. 101
Syaikh Bin Baz, Majmu‘ Fatawa, jilid 1 hlm. 330
Kemungkinan kedua, meyakini bahwa bintang hanyalah sebab turunnya hujan, bukan pencipta hujan. Keyakinan ini termasuk syirik kecil dan kufur nikmat.
Kesalahan dalam keyakinan ini ada dua sisi. Pertama, bintang bukan sebab syar‘i maupun sebab kauni turunnya hujan. Sebab turunnya hujan yang Allah sebutkan antara lain adalah angin dan awan, bukan bintang. Kedua, meskipun suatu hal benar sebagai sebab, tidak boleh menisbahkan nikmat kepada sebab tersebut, tetapi wajib menyandarkannya kepada Allah.
Rujukan
Ibnu Utsaimin, Majmu‘ Fatawa wa Rasail, jilid 2 hlm. 127
Al-Albani, Tahdzir as-Sajid, hlm. 23
Bentuk Kedua: Menggunakan Huruf “Fi” (Pada)
Contohnya ucapan, “Kami diberi hujan pada waktu munculnya bintang ini.”Ungkapan ini hanya menjelaskan waktu terjadinya hujan, bukan sebabnya. Huruf “fi” di sini berfungsi sebagai zharf zaman (keterangan waktu), sebagaimana ucapan “hujan turun pada bulan ini”.
Dalam masalah ini terdapat khilaf di kalangan ulama. Sebagian memakruhkannya karena khawatir menimbulkan kesalahpahaman, dan sebagian membolehkannya. Pendapat yang lebih kuat adalah boleh, selama tidak diyakini adanya hubungan sebab-akibat antara bintang dan hujan.
Rujukan
Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, jilid 7 hlm. 287
Ibnu Utsaimin, Syarh Riyadh ash-Shalihin, jilid 3 hlm. 56
Dalil Al-Qur’an tentang Pengingkaran Nikmat
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah al-Waqi‘ah ayat 75–82, yang di dalamnya Allah mencela orang-orang yang menjadikan rezeki yang Allah berikan justru sebagai sarana mendustakan-Nya.Ayat ini ditafsirkan oleh para ulama sebagai celaan terhadap orang-orang yang menisbahkan rezeki berupa hujan kepada selain Allah, seperti bintang-bintang.
Rujukan
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jilid 7 hlm. 515
At-Thabari, Jami‘ al-Bayan, jilid 23 hlm. 132
Hadits tentang Perkara Jahiliyah yang Masih Tersisa
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di antara umat beliau terdapat beberapa perkara jahiliyah yang tidak mereka tinggalkan, di antaranya adalah menisbahkan turunnya hujan kepada bintang.Jahiliyah yang dimaksud di sini adalah jahiliyah parsial, bukan jahiliyah total sebagaimana sebelum diutusnya Nabi ﷺ. Seorang muslim bisa saja memiliki sifat Islam dalam dirinya, namun masih terjatuh dalam sebagian sifat jahiliyah.
Rujukan
HR. Muslim no. 934
An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, jilid 6 hlm. 168
Hadits Zaid bin Khalid tentang Hujan
Dalam hadits shahih riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim, Zaid bin Khalid al-Juhani رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda setelah turunnya hujan:
“Pada pagi hari ini ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun yang berkata, ‘Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun yang berkata, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”
Hadits ini menunjukkan bahwa menisbahkan hujan kepada bintang adalah bentuk kufur kecil karena menisbahkan nikmat kepada selain Allah.
Rujukan
HR. al-Bukhari no. 846
HR. Muslim no. 71
Ibnu Hajar, Fath al-Bari, jilid 2 hlm. 524
Faedah Aqidah dari Hadits
Di antara faedah aqidah dari hadits ini adalah penetapan sifat kalam bagi Allah sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Allah berbicara kapan dan bagaimana yang Dia kehendaki, bukan dengan kalam yang statis sebagaimana keyakinan sebagian ahli bid‘ah.
Hadits ini juga menunjukkan disyariatkannya imam memberikan nasihat kepada jamaah setelah shalat apabila ada kebutuhan.
Rujukan
Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wan Naql, jilid 2 hlm. 37
Ibnu Utsaimin, Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, jilid 1 hlm. 72
Penutup
Menisbahkan turunnya hujan kepada bintang adalah keyakinan batil yang termasuk syirik kecil dan kufur nikmat, bahkan dapat menjadi syirik akbar jika diyakini adanya peran hakiki bintang dalam pengaturan alam. Seorang muslim wajib menjaga lisannya dan aqidahnya dengan menyandarkan seluruh nikmat kepada Allah semata.Semoga Allah menjaga kita dari sisa-sisa jahiliyah dan meneguhkan kita di atas tauhid hingga akhir hayat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
