Sumber Petaka Itu Bernama Lisan
Di antara nikmat Allah yang paling besar sekaligus paling berbahaya adalah lisan. Dengannya seorang bisa meraih derajat tinggi di sisi Allah, namun dengannya pula seseorang bisa terjerumus ke dalam kebinasaan dunia dan akhirat.
Abu Bakar Ash-Shiddiq Khawatir Terhadap Lisannya
Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata:
﴿عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ دَخَلَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَهُوَ يَجُذُّ لِسَانَهُ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: مَهْ، غَفَرَ اللهُ لَكَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ﴾
“Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, bahwasanya Umar bin al-Khaththab masuk menemui Abu Bakar ash-Shiddiq, sementara Abu Bakar sedang memegang lisannya. Umar berkata: ‘Cukup, semoga Allah mengampunimu.’ Abu Bakar menjawab: ‘Lisan inilah yang telah menjerumuskanku ke dalam kebinasaan.’”
(Az-Zuhd, karya Imam Ahmad bin Hanbal, hlm. 90)
Allahu Akbar. Seorang sahabat sekelas Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه, manusia terbaik setelah para nabi, begitu takut terhadap dosa lisannya. Lantas bagaimana dengan lisan kita yang begitu ringan mengucapkan kata-kata dosa?
Paling Banyak Dosa Anak Adam Bersumber dari Lisan
Rasulullah ﷺ bersabda:
﴿أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ﴾
“Paling banyak kesalahan anak Adam bersumber dari lisannya.”
(HR. Ath-Thabarani, Ibnu ‘Asakir, dan lainnya; dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 534)
Abu Bakar takut kepada Allah sehingga ia takut terhadap lisannya. Sementara banyak dari kita justru tidak takut kepada lisan, karena tipisnya rasa takut kepada Allah Ta’ala.
Sikap dan Etika Ahlus Sunnah Terhadap Para Sahabat
1. Mencintai Para Sahabat dengan Hati dan Lisan
Mencintai para sahabat merupakan bagian dari iman. Bahkan, mencintai mereka adalah konsekuensi dari kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena Allah sendiri telah meridhai mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿رَبُّهُمْ يُبَشِّرُهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ﴾
“Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.”
(QS. At-Taubah [9]: 21)
Al-Imam Malik bin Anas رحمه الله berkata:
“Dahulu para salaf mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajarkan surat-surat dalam Al-Qur’an.”
(Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, al-Lalika’i, 7/1240)
Ini menunjukkan bahwa mencintai para sahabat bukan perkara sampingan, tetapi bagian dari pendidikan aqidah.
2. Mendoakan Rahmat dan Ampunan untuk Para Sahabat
Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa mendoakan para sahabat dan memohonkan ampunan untuk mereka, sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ﴾
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) berkata: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau menjadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’”
(QS. Al-Hasyr [59]: 10)
Oleh karena itu, setiap kali Ahlus Sunnah menyebut nama sahabat Nabi ﷺ, mereka mengiringinya dengan doa radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah meridhainya).
3. Menahan Lisan dari Membicarakan Kesalahan Sahabat
Ahlus Sunnah wal Jama’ah menahan lisan dari membicarakan kesalahan para sahabat, terlebih lagi mencela mereka. Hal ini karena kesalahan sahabat sangat sedikit dibandingkan kebaikan dan keutamaan mereka yang begitu besar. Selain itu, kesalahan mereka lahir dari ijtihad yang diampuni oleh Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
﴿لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ﴾
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, dan tidak pula setengahnya.”
(HR. Al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
﴿إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا﴾
“Apabila sahabat-sahabatku disebutkan, maka tahanlah lisan kalian.”
(Hadits shahih, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 34)
Al-Munawi رحمه الله berkata:
“Maksudnya adalah apa yang terjadi di antara mereka berupa peperangan dan perselisihan. Maka wajib menahan diri dari mencela mereka dan membicarakan mereka dengan perkataan yang tidak pantas, karena mereka adalah sebaik-baik umat.”
(Faidhul Qadir, 1/347)
Inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap para sahabat Nabi ﷺ: mencintai mereka, mendoakan mereka, dan menahan lisan dari mencela atau merendahkan kedudukan mereka. Aqidah ini dibangun di atas Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para salaf, serta menjadi benteng dari penyimpangan kelompok-kelompok yang mencela sahabat Rasulullah ﷺ.
Perintah untuk Berkata Baik atau Diam
Dalam banyak hadits, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar seorang muslim mengucapkan kebaikan atau diam. Al-Qur’an dan Sunnah penuh dengan peringatan agar seorang hamba menjaga lisannya dan tidak berbicara tanpa pertimbangan yang matang.
Betapa banyak dosa, permusuhan, fitnah, dan kehancuran yang bersumber dari lisan yang tak bertulang, hingga menjadi sebab utama seseorang dicampakkan ke dalam api Neraka.
Empat Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Berbicara
Sebelum seorang muslim melontarkan sebuah ucapan, hendaknya ia menimbang empat perkara berikut:
1. Tujuan dan Niat
Niat yang baik menjadikan ucapan terasa menenangkan dan menghadirkan kedamaian. Sebaliknya, kata-kata indah bisa menjadi racun mematikan jika niat di baliknya buruk.
2. Kandungan Makna Ucapan
Setiap huruf yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Oleh karena itu, seorang muslim harus selektif dalam bertutur kata karena ucapan itu akan menentukan nasibnya di akhirat.
3. Kelembutan Kata
Ucapan yang lembut dan santun mampu meluluhkan amarah, menenangkan jiwa, dan menumbuhkan kasih sayang. Kekerasan lisan sering kali merusak kebenaran yang ingin disampaikan.
4. Dampak dan Efek Ucapan
Bisa jadi ucapan itu benar, niatnya baik, dan disampaikan dengan lembut, namun efeknya justru buruk. Oleh karena itu, ucapan harus dipertimbangkan dampaknya agar tidak berujung pada petaka dan melukai perasaan kaum muslimin.
(Lihat: Cerdas Berkomunikasi Ala Nabi, Dr. Muhammad Arifin Badri, hlm. 11–43)
Poin keempat ini sangat penting, khususnya bagi para dai dan penuntut ilmu, agar tidak menghancurkan bangunan dakwah yang telah dibangun dengan susah payah.
Nasihat Ulama Salaf tentang Dampak Ucapan
Imam Asy-Syathibi رحمه الله berkata:
“Memikirkan akibat suatu perbuatan sangat penting dalam pandangan syariat, baik perbuatan itu benar maupun salah. Seorang alim tidak dapat menghukumi suatu perbuatan dengan tepat kecuali setelah melihat akibat yang ditimbulkan, berupa kebaikan atau keburukan.”
(Al-Muwafaqat, 5/177)
Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaily حفظه الله berkata:
“Di antara fiqh menghadapi zaman fitnah adalah bahwa keyakinan dibangun di atas ilmu, sedangkan ucapan dan penjelasan kepada umat dibangun di atas kemaslahatan. Seorang muslim harus meyakini apa yang ditunjukkan oleh dalil dan apa yang ditetapkan para ulama. Adapun ucapan dan penjelasan kepada umat, maka harus berdasarkan kemaslahatan. Tidak disyariatkan bagi seorang muslim untuk mengucapkan setiap apa yang ia ketahui. Jika dalam mengucapkannya terdapat maslahat, maka ia ucapkan. Namun jika maslahat menuntut untuk menundanya, maka ia menundanya.”
(Fiqhul Fitan, hlm. 40–41)
Lisan adalah sumber keselamatan sekaligus sumber petaka. Barang siapa menjaga lisannya, ia telah menjaga agamanya. Dan barang siapa meremehkan lisannya, maka ia telah membuka pintu kebinasaan bagi dirinya sendiri.
Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan-lisan kita dari ucapan yang dimurkai-Nya dan menghiasi lisan kita dengan dzikir, kebenaran, dan hikmah.
