Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.
Surga adalah cita-cita seluruh kaum beriman, bahkan merupakan cita-cita para nabi dan rasul. Mengharap surga bukanlah perkara tercela, justru termasuk ibadah yang dianjurkan dalam Islam. Hal ini sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salām yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an:
وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ
“Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.”
(QS. Asy-Syu‘arā’: 85)
Nabi Ibrahim ‘alaihis salām adalah manusia yang paling bertauhid dan mendapat gelar Khalīlullāh (kekasih Allah). Jika beliau saja memohon surga, maka anggapan bahwa tidak boleh beribadah dengan mengharap surga atau takut neraka adalah anggapan yang batil.
Rasulullah ﷺ bahkan memerintahkan umatnya agar memiliki cita-cita yang tinggi dalam meminta surga. Beliau bersabda:
إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ
“Jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tinggi.”
(HR. Bukhari)
Makna secara bahasa
Adapun makna surga secara bahasa, kata surga (الجنة) berasal dari akar kata ج ن ن yang bermakna tertutup atau tersembunyi. Dari akar kata ini lahir istilah jin karena tersembunyi dari pandangan, janin karena tersembunyi dalam perut ibu, dan junun (gila) karena akalnya tertutup.
Secara bahasa, surga adalah taman yang pohonnya lebat dan rindang hingga menutupi apa yang ada di dalamnya. Namun surga tidak boleh diserupakan dengan taman dunia, karena hakikat dan kenikmatannya jauh berbeda dari dunia.
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa surga yang pernah ditempati Nabi Adam ‘alaihis salām adalah surga yang sama yang kelak akan ditempati orang-orang beriman. Surga tersebut bisa ditambah dan ditingkatkan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits tentang pembangunan istana di surga sesuai amal seorang hamba.
Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, surga dan neraka sudah diciptakan dan telah ada. Allah berfirman:
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“(Surga itu) disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali ‘Imran: 133)
Kata “disediakan” menunjukkan bahwa surga telah ada. Hal ini juga ditegaskan dalam peristiwa Isra’ Mi‘raj, ketika Allah berfirman:
عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ
عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
“Di Sidratul Muntaha, di sanalah surga tempat tinggal.”
(QS. An-Najm: 14–15)
Penjelasan hadits shahih
Hadits-hadits sahih juga menjelaskan bahwa ruh orang-orang beriman telah merasakan kenikmatan surga meskipun belum sempurna. Adapun ruh para syuhada berada dalam jasad burung hijau yang berterbangan di surga dan menikmati rezeki dari Allah. Ini semua menunjukkan bahwa surga benar-benar ada dan memiliki fungsi.
Surga tidak satu tingkat, melainkan bertingkat-tingkat sesuai amal seorang hamba. Allah berfirman:
وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً
“Dan kalian menjadi tiga golongan.”
(QS. Al-Wāqi‘ah: 7)
Allah menyebutkan golongan As-Sābiqūn (yang paling tinggi derajatnya) dan Ashābul Yamin (golongan kanan). Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Sesungguhnya di surga terdapat seratus tingkatan yang Allah siapkan bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah.”
(HR. Bukhari)
Masuk surga bukanlah karena amal sebagai harga pembayaran. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ
“Tidak seorang pun masuk surga dengan amalnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun amal tetap memiliki peran sebagai sebab turunnya rahmat Allah. Allah berfirman:
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“Makan dan minumlah dengan nikmat karena apa yang telah kalian kerjakan di hari-hari yang lalu.”
(QS. Al-Hāqqah: 24)
Kesimpulan
Kesimpulannya, seorang hamba masuk surga dengan rahmat Allah. Rahmat Allah diraih melalui amal shalih yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Amal bukan tiket untuk membayar surga, tetapi sebab untuk mendapatkan rahmat Allah, dan besar kecilnya rahmat tersebut sesuai kualitas dan kuantitas amal.
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang tinggi dan menjauhkan kita dari neraka-Nya. Aamiin.
