Cinta Merah Jambu yang Menipu
(part 1)
Saat Pacaran Dibungkus Kata Cinta
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh pengikut beliau hingga Hari Kiamat.
Pendahuluan
Hampir setiap orang pernah merasakan apa yang disebut sebagai "cinta merah jambu". Masa ketika hati berbunga-bunga, wajah tersenyum sendiri saat menerima pesan, atau merasa bahagia hanya karena diperhatikan oleh seseorang yang disukai.
Fenomena ini seakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja dan pemuda. Bahkan, pacaran sering dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa pacaran adalah langkah awal untuk mengenal calon pasangan sebelum menikah.
Padahal, seorang muslim tidak menjadikan kebiasaan manusia sebagai tolok ukur kebenaran. Standar benar dan salah adalah wahyu Allah Ta'ala dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Islam adalah agama yang sangat menghargai fitrah manusia. Islam tidak melarang seseorang memiliki rasa cinta kepada lawan jenis. Sebaliknya, Islam mengakui bahwa cinta merupakan salah satu nikmat yang Allah tanamkan dalam hati manusia. Akan tetapi, Islam juga memberikan aturan agar fitrah tersebut tidak berubah menjadi jalan menuju maksiat.
Cinta adalah Fitrah yang Allah Ciptakan
Allah Ta'ala berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُۥ حُسْنُ الْمَـَٔابِ
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa yang diingini, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk berupa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, sedangkan di sisi Allah tempat kembali yang terbaik."
(QS. Ali 'Imran: 14)
Ayat ini menunjukkan bahwa rasa cinta bukanlah sesuatu yang tercela. Allah sendiri mengabarkan bahwa manusia dihiasi dengan kecintaan terhadap berbagai kenikmatan dunia, termasuk kepada lawan jenis.
Namun, ayat ini juga mengingatkan bahwa semua itu hanyalah mata'ul hayatid dunya, yaitu kesenangan dunia yang bersifat sementara. Jangan sampai kecintaan kepada makhluk mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengabarkan tentang tabiat manusia yang cenderung mencintai syahwat. Karena itu, syariat datang bukan untuk menghapus fitrah tersebut, tetapi untuk mengarahkannya agar ditempuh melalui jalan yang halal dan diridhai Allah.
Maka, ketika seorang pemuda atau pemudi mulai merasakan ketertarikan kepada lawan jenis, jangan merasa berdosa hanya karena hadirnya perasaan itu. Yang harus dijaga adalah bagaimana menyikapi perasaan tersebut. Apakah ia akan mengikuti hawa nafsu, ataukah ia akan menahan diri hingga Allah membukakan jalan yang halal melalui pernikahan?
Ketika Fitrah Diarahkan oleh Syariat
Sering kali orang berkata, "Namanya juga cinta, tidak bisa diatur."
Padahal, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin mampu mengendalikan hawa nafsunya. Allah tidak membebani seorang hamba dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya.
Rasa cinta memang tidak selalu dapat dipilih, tetapi tindakan yang lahir dari rasa cinta itulah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Seseorang mungkin tidak mampu mencegah hatinya berdebar ketika melihat lawan jenis. Namun ia mampu memilih untuk menjaga pandangan, tidak memulai obrolan yang tidak perlu, tidak berkhalwat, dan tidak menjalin hubungan yang Allah haramkan.
Inilah keindahan syariat Islam. Syariat tidak mematikan fitrah, tetapi membimbing fitrah agar menjadi jalan menuju pahala, bukan menuju dosa.
Bersambung, insya Allah, pada bagian berikutnya dengan pembahasan QS. Al-Isra': 32 tentang larangan mendekati zina dan mengapa pacaran termasuk pintu yang harus dijauhi.
Allah Tidak Hanya Melarang Zina, Tetapi Juga Jalan Menuju Zina
Salah satu keindahan syariat Islam adalah sifatnya yang menjaga. Allah tidak hanya mengharamkan suatu dosa ketika dosa itu telah terjadi, tetapi juga menutup berbagai pintu yang mengantarkan kepadanya.
Allah Ta'ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."
(QS. Al-Isra': 32)
Perhatikan dengan saksama ayat ini. Allah tidak berfirman, "Jangan berzina." Akan tetapi Allah berfirman, "Janganlah kalian mendekati zina."
Para ulama menjelaskan bahwa larangan mendekati berarti larangan terhadap seluruh jalan yang dapat mengantarkan kepada zina. Ini menunjukkan kesempurnaan syariat Islam dalam menjaga kehormatan manusia.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat ini mencakup larangan terhadap segala sebab yang mengantarkan kepada zina, karena siapa saja yang berada di sekitar sebab-sebab tersebut dikhawatirkan akan terjatuh ke dalamnya.
Karena itu, Islam mengajarkan seorang mukmin agar tidak bermain-main dengan fitnah syahwat. Sebab, hati manusia lemah, sedangkan setan tidak pernah berhenti menggoda.
Mengapa Pacaran Termasuk Jalan Menuju Zina?
Sebagian orang berkata, "Kami hanya pacaran. Tidak melakukan apa-apa."
Namun pertanyaannya, bagaimana kebanyakan hubungan itu bermula?
Awalnya saling melihat. Kemudian saling mengikuti media sosial. Lalu saling mengirim pesan. Setelah itu saling curhat. Muncul rasa nyaman. Kemudian bertemu. Berduaan. Pegangan tangan. Berpelukan. Ciuman. Hingga akhirnya sebagian orang terjatuh kepada zina.
Memang tidak semua orang yang pacaran berakhir dengan zina. Akan tetapi, pacaran membuka pintu menuju perbuatan tersebut. Inilah yang dilarang oleh syariat.
Islam tidak menunggu seseorang jatuh ke jurang terlebih dahulu. Islam memasang pagar jauh sebelum jurang itu.
Bukankah orang yang sayang kepada anaknya akan melarangnya bermain di tepi jurang, meskipun anak itu belum terjatuh? Demikian pula syariat Allah, yang datang sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Setan Menggoda Secara Bertahap
Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar."
(QS. An-Nur: 21)
Perhatikan bahwa Allah menggunakan kata "langkah-langkah". Setan tidak langsung mengajak manusia kepada dosa besar.
Ia memulai dari hal-hal yang dianggap sepele.
"Chat sebentar saja."
"Hanya berteman."
"Hanya video call."
"Hanya jalan berdua."
"Hanya saling menyemangati."
Begitulah setan menghiasi maksiat sedikit demi sedikit hingga hati tidak lagi peka terhadap dosa.
Menjaga Pandangan adalah Benteng Pertama
Allah Ta'ala berfirman,
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
(QS. An-Nur: 30)
Kemudian Allah berfirman,
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ...
"Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya..."
(QS. An-Nur: 31)
Mengapa Allah memerintahkan menjaga pandangan terlebih dahulu?
Karena pandangan adalah pintu masuk menuju hati. Apa yang sering dilihat akan mudah menetap di dalam pikiran. Apa yang menetap di pikiran akan mudah tumbuh menjadi keinginan.
Oleh sebab itu, seorang mukmin menjaga pandangannya bukan karena membenci lawan jenis, tetapi karena ingin menjaga kesucian hatinya.
Larangan Berkhalwat
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan."
(HR. At-Tirmidzi, no. 2165, dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama)
Khalwat adalah berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di tempat yang memungkinkan terjadinya fitnah.
Larangan ini bukan karena Islam berburuk sangka kepada manusia. Akan tetapi, karena Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui kelemahan hati manusia.
Betapa banyak orang yang awalnya berkata, "Kami hanya berteman."
Namun akhirnya terjerumus kepada hubungan yang diharamkan.
Pacaran Tidak Pernah Dicontohkan Rasulullah ﷺ
Sering terdengar anggapan bahwa pacaran adalah cara untuk saling mengenal.
Padahal, jika pacaran merupakan jalan yang baik, tentu Rasulullah ﷺ telah mengajarkannya kepada para sahabat.
Namun tidak ada satu riwayat sahih yang menunjukkan bahwa beliau membimbing para sahabat untuk menjalin hubungan pacaran sebelum menikah.
Sebaliknya, syariat mengenalkan proses yang menjaga kehormatan kedua belah pihak, yaitu dengan melihat calon pasangan dalam batas yang dibolehkan, melibatkan wali bila diperlukan, dan melangsungkan akad nikah apabila telah mantap.
Islam mengajarkan perkenalan yang bertanggung jawab, bukan hubungan tanpa ikatan yang dibiarkan berlarut-larut.
Cinta Sejati Mendekatkan kepada Allah
Ukuran cinta dalam Islam bukanlah seberapa sering seseorang mengucapkan, "Aku mencintaimu."
Ukurannya adalah apakah cinta tersebut membuat seseorang semakin taat atau justru semakin jauh dari Allah.
Apabila sebuah hubungan menyebabkan shalat mulai terlambat, hati sibuk menunggu pesan, lalai membaca Al-Qur'an, berani melanggar batas-batas syariat, bahkan berani menyakiti hati orang tua, maka sudah sepatutnya seseorang bertanya kepada dirinya sendiri:
"Benarkah ini cinta yang diridhai Allah?"
Karena cinta yang diberkahi tidak akan mengajak kepada kemaksiatan. Ia justru menjadi sebab bertambahnya iman, kesabaran, dan ketakwaan.
Maka, jangan sampai kita tertipu oleh manisnya cinta merah jambu yang hanya sesaat, tetapi mengorbankan kebahagiaan yang kekal di akhirat.
Wallahu a'lam bish-shawab
