Cinta Merah Jambu yang Menipu
part 2
Jalan Cinta yang Diridhai Allah
Menikah, Bukan Pacaran, Adalah Jalan yang Diajarkan Rasulullah ﷺ
Ketika fitrah cinta telah hadir di dalam hati seorang pemuda atau pemudi, Islam tidak membiarkannya tanpa arah. Syariat memberikan jalan yang mulia, yaitu pernikahan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
"Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah, maka menikahlah. Sebab menikah lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa menjadi perisai baginya."
(HR. Al-Bukhari no. 5066 dan Muslim no. 1400)
Perhatikanlah petunjuk Rasulullah ﷺ. Beliau tidak mengatakan, "Jika engkau mencintai seseorang, maka berpacaranlah." Beliau justru menunjukkan dua pilihan: menikah bagi yang mampu, dan berpuasa bagi yang belum mampu.
Ini menunjukkan bahwa menjaga kehormatan diri adalah tujuan yang sangat dijaga dalam Islam.
Bersabar Menunggu Jalan yang Halal
Tidak semua orang diberi kemudahan untuk segera menikah. Ada yang masih menempuh pendidikan, belum memiliki pekerjaan yang mencukupi, ada yang belum kunjung menemukan calon yang cocok atau memiliki tanggung jawab lain yang membuatnya harus bersabar. Namun, keadaan tersebut bukanlah alasan untuk mencari pelampiasan melalui hubungan yang diharamkan.
Allah Ta'ala berfirman,
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
"Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri) mereka sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya."
(QS. An-Nur: 33)
Ayat ini merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah mengetahui bahwa tidak semua orang dapat segera menikah. Namun, Allah tidak menjadikan keadaan tersebut sebagai alasan untuk membuka pintu-pintu maksiat. Sebaliknya, Allah memerintahkan agar mereka beristi'faf, yaitu menjaga kehormatan dan kesucian diri hingga Allah memberikan kelapangan.
Menunggu memang bukan perkara yang mudah. Apalagi di tengah zaman ketika hubungan di luar pernikahan dianggap lumrah dan bahkan dipromosikan sebagai sesuatu yang romantis. Akan tetapi, seorang mukmin yakin bahwa ketaatan selalu lebih indah daripada mengikuti hawa nafsu.
Betapa banyak orang yang bersabar menjaga diri, lalu Allah mempertemukannya dengan pasangan yang shalih melalui jalan yang halal. Sebaliknya, tidak sedikit yang menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pacaran, namun akhirnya berpisah tanpa pernah sampai ke pelaminan. Semua kenangan, air mata, dan harapan yang dibangun di atas hubungan yang tidak diridhai Allah pun berakhir dengan penyesalan.
Karena itu, jangan takut untuk menunggu. Apa yang Allah tetapkan untukmu tidak akan tertukar dengan milik orang lain. Tugas kita adalah memperbaiki diri, memperbanyak doa, dan bertawakal kepada Allah.
Tidak Ada Kebaikan dalam Kemaksiatan
Sering kali terdengar ucapan,
"Kami pacaran, tapi niatnya serius."
"Kami pacaran supaya nanti tidak salah pilih pasangan."
"Kami hanya sedang mencari sebuah kecocokan"
Niat yang baik tidak dapat menghalalkan cara yang salah. Dalam Islam, tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang juga baik.
Para ulama menjelaskan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk mengikuti syariat, bukan sekadar mengikuti perasaannya. Sebab hati manusia bisa berubah-ubah, sedangkan petunjuk Allah adalah kebenaran yang tetap.
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang hamba terletak pada ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, maksiat yang dilakukan demi mengikuti hawa nafsu pada akhirnya hanya akan mendatangkan penyesalan.
Meninggalkan Sesuatu Karena Allah Tidak Pernah Merugikan
Banyak orang yang ingin berhijrah, tetapi merasa berat mengakhiri hubungan yang telah lama dijalani.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
"Sesungguhnya engkau tidak meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik bagimu."
(HR. Ahmad; dinilai hasan oleh sejumlah ulama)
Janji ini adalah penghibur bagi setiap hati yang sedang berjuang meninggalkan yang haram. Bisa jadi yang Allah gantikan bukan orang yang sama, tetapi ketenangan hati, keberkahan hidup, atau pasangan yang lebih baik menurut ilmu-Nya.
Allah tidak pernah menyia-nyiakan pengorbanan seorang hamba.
Jika Sudah Terlanjur Pacaran
Islam adalah agama rahmat. Sebesar apa pun dosa seorang hamba, pintu taubat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.
Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
(QS. Az-Zumar: 53)
Jika hari ini engkau masih terikat dalam hubungan yang tidak diridhai Allah, jangan menunda untuk kembali kepada-Nya. Taubat yang tulus selalu lebih baik daripada terus bertahan dalam kemaksiatan. Barangkali keputusan yang paling berat hari ini justru menjadi awal dari ketenangan yang Allah anugerahkan di kemudian hari.
Taubat yang benar dilakukan dengan meninggalkan maksiat, menyesali perbuatan tersebut, bertekad untuk tidak mengulanginya, dan apabila memungkinkan menutup semua pintu yang dapat menyeret kembali kepada dosa yang sama.
Cinta yang Paling Layak Diperjuangkan
Di atas segala cinta kepada manusia, ada cinta yang lebih agung, yaitu cinta kepada Allah.
Allah Ta'ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
"Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah."
(QS. Al-Baqarah: 165)
Ketika cinta kepada Allah memenuhi hati seorang hamba, maka ia akan lebih memilih kehilangan sesuatu di dunia daripada kehilangan ridha Rabb-nya. Ia sadar bahwa kebahagiaan sejati bukanlah ketika memiliki seseorang, tetapi ketika Allah meridhainya.
Penutup
Warna merah jambu memang indah dipandang. Namun jangan sampai keindahannya membuat kita lupa bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Jangan biarkan setan menghiasi jalan yang dilarang hingga tampak seolah-olah itulah cinta sejati.
Jika engkau mencintai seseorang, cintailah dengan cara yang diridhai Allah. Jagalah kehormatanmu, jagalah hatimu, perbanyak doa, dan jika Allah memudahkan, tempuhlah jalan pernikahan yang halal.
Semoga Allah menjaga para pemuda dan pemudi kaum muslimin dari fitnah syahwat, meneguhkan hati kita di atas ketaatan, serta mengaruniakan kepada kita pasangan yang saleh dan salehah yang menjadi penyejuk mata.
Allah Ta'ala berfirman,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.'"
(QS. Al-Furqan: 74)
Ya Allah, jagalah hati kami dari cinta yang melalaikan, dan karuniakanlah kepada kami cinta yang mengantarkan kepada ridha-Mu. Aamiin.
wallahu a'lam bish-shawab
