Bahaya Mendatangi Dukun dan Pesugihan: Ancaman Besar bagi Tauhid Seorang Muslim
Rezeki di Tangan Allah dan Larangan Mendatangi Dukun
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji hanya milik Allah Ta'ala, Rabb semesta alam. Dialah Yang Maha Memberi rezeki, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Mematikan, dan di tangan-Nya segala urusan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
Pendahuluan
Keinginan untuk hidup berkecukupan adalah fitrah manusia. Setiap orang mendambakan rezeki yang luas, kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Namun, tidak semua orang menempuh jalan yang benar untuk meraihnya.
Ketika himpitan ekonomi datang, usaha belum membuahkan hasil, atau penyakit tak kunjung sembuh, sebagian orang tergoda mencari jalan pintas. Ada yang mendatangi dukun, paranormal, orang pintar, peramal, atau pelaku pesugihan dengan harapan memperoleh solusi instan.
Padahal, dalam Islam, perkara ini bukan sekadar kesalahan kecil. Ia berkaitan dengan kemurnian tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, doa, rasa takut, harapan, dan tawakal. Karena itu, syariat memberikan peringatan yang sangat keras terhadap segala bentuk perdukunan.
Rezeki Hanya Berasal dari Allah
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya."
(QS. Hud: 6)
Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh makhluk berada dalam jaminan rezeki Allah. Bukan berarti seseorang boleh bermalas-malasan, tetapi ia wajib berusaha dengan cara yang halal sambil bertawakal kepada Rabbnya.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh meyakini bahwa dukun, jin, benda pusaka, atau ritual tertentu mampu mendatangkan rezeki secara mandiri. Semua manfaat dan mudarat hanya terjadi dengan izin Allah.
Siapakah Dukun?
Dalam literatur Islam dikenal beberapa istilah yang berkaitan dengan perdukunan.
Kahin adalah orang yang mengaku mengetahui perkara gaib dengan bantuan jin.
'Arraf adalah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang tersembunyi, seperti barang hilang, masa depan, atau keadaan seseorang melalui cara-cara yang tidak dibenarkan syariat.
Sedangkan sahir adalah tukang sihir yang menggunakan praktik sihir untuk memengaruhi manusia.
Larangan Mendatangi Dukun
Rasulullah ﷺ memberikan ancaman yang sangat keras.
Beliau bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
"Barang siapa mendatangi seorang 'arraf (dukun/peramal) lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama empat puluh malam."
(HR. Muslim no. 2230)
Hadis ini menunjukkan bahwa sekadar mendatangi dan bertanya kepada dukun sudah termasuk dosa besar. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud "tidak diterima" adalah seseorang tidak memperoleh pahala salatnya selama empat puluh malam, meskipun kewajiban salatnya tetap harus ditunaikan dan tidak gugur.
Ancaman ini menunjukkan betapa Islam menjaga kemurnian akidah umatnya.
Mengapa Larangannya Sangat Keras?
Allah berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah."
(QS. An-Naml: 65)
Perkara gaib adalah hak Allah. Tidak ada malaikat, jin, apalagi manusia yang mengetahui seluruh perkara gaib.
Karena itu, ketika seseorang meyakini ada manusia yang mengetahui masa depan, mengetahui takdir, atau mengetahui seluruh rahasia kehidupan tanpa wahyu dari Allah, keyakinan tersebut bertentangan dengan prinsip tauhid.
Islam mengajarkan agar seorang muslim menggantungkan harapan hanya kepada Allah, memperbanyak doa, istikharah ketika menghadapi pilihan, serta bersabar menghadapi ujian, bukan mencari jawaban melalui praktik perdukunan.
Mengapa Sebagian Ramalan Dukun Tampak Benar?
Salah satu alasan mengapa masih banyak orang mempercayai dukun adalah karena mereka melihat sebagian ucapan dukun seolah-olah terbukti. Misalnya, dukun dapat menebak sebagian kejadian yang pernah dialami seseorang, mengetahui nama anggota keluarganya, atau meramalkan suatu peristiwa yang kemudian tampak sesuai dengan kenyataan.
Lalu, apakah ini menunjukkan bahwa dukun benar-benar mengetahui perkara gaib?
Jawabannya adalah tidak.
Allah Ta'ala telah menegaskan:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah."
(QS. An-Naml: 65)
Ayat ini menjadi landasan pokok bahwa ilmu gaib adalah hak Allah semata. Tidak ada manusia, jin, ataupun malaikat yang mengetahui perkara gaib secara mutlak kecuali jika Allah memberitahukannya kepada siapa yang Dia kehendaki.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setan terkadang mencuri sebagian berita dari langit sebelum kemudian menyampaikannya kepada para dukun. Berita yang sedikit itu lalu dicampur dengan banyak kebohongan sehingga manusia tertipu. Karena satu ucapan yang kebetulan benar, mereka menganggap seluruh perkataan dukun dapat dipercaya. Padahal Nabi ﷺ menerangkan bahwa berita yang benar itu telah dicampur dengan banyak kedustaan. (HR. Al-Bukhari dan HR. Muslim)
Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh menjadikan "ramalannya pernah benar" sebagai alasan untuk mempercayai dukun. Kebenaran yang sedikit tidak menghalalkan kebatilan yang banyak.
Hukum Mempercayai Perkataan Dukun
1. Meyakini tukang ramal atau Dukun mengetahui perkara gaib dengan sendirinya adalah kekufuran
Barang siapa meyakini bahwa tukang ramal mengetahui perkara gaib dengan kemampuan dirinya sendiri, maka keyakinan ini termasuk kekufuran. Sebab, ilmu gaib adalah hak Allah semata.
Allah Ta'ala berfirman,
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia."
(QS. Al-An'am: 59)
Allah Ta'ala juga berfirman,
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah."
(QS. An-Naml: 65)
2. Mendatangi Dukun/tukang ramal dan membenarkan ucapannya termasuk dosa besar
Apabila seseorang mendatangi tukang ramal dengan keyakinan bahwa informasi tersebut berasal dari setan, lalu ia membenarkan ucapannya, maka ia terancam dengan dua hukuman.
a. Shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
"Barang siapa mendatangi tukang ramal lalu bertanya kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam."
(HR. Muslim no. 2230)
Yang dimaksud "tidak diterima" adalah ia tidak memperoleh pahala shalatnya, namun kewajiban shalat tetap harus dikerjakan dan tidak boleh ditinggalkan.
b. Termasuk kufur ashghar
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
"Barang siapa mendatangi dukun atau tukang ramal lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad."
(HR. Ahmad, hasan)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam keadaan ini adalah kufur ashghar, selama ia tidak meyakini tukang ramal mengetahui perkara gaib dengan sendirinya.
3. Boleh mendatangi tukang ramal/dukun untuk membongkar kedustaannya
Apabila seseorang mendatangi Dukun/tukang ramal dengan tujuan menguji, membongkar kebohongannya, atau memperingatkan masyarakat dari kesesatannya, maka hal ini diperbolehkan. Namun, hal tersebut hanya dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu dan akidah yang kuat sehingga tidak terpengaruh oleh kebatilan mereka.
Perdukunan Modern: Jangan Tertipu dengan Namanya
Di masa kini, praktik perdukunan sering kali tidak lagi menggunakan istilah "dukun". Ada yang menyebut dirinya paranormal, konsultan spiritual, orang pintar, penerawang, ahli pengasihan, pembuka aura, atau menawarkan berbagai ritual yang diklaim dapat mendatangkan keberuntungan.
Seorang muslim hendaknya tidak tertipu oleh nama atau kemasan. Yang menjadi ukuran adalah hakikat praktiknya.
Apabila seseorang mengaku mengetahui perkara gaib, meminta bantuan jin, menggunakan mantra yang tidak dipahami maknanya, memerintahkan pemakaian jimat, meminta sesajen, atau melakukan ritual yang tidak memiliki dasar dalam syariat, maka hal itu wajib dijauhi.
Pesugihan: Kekayaan yang Dibayar dengan Akidah
Di antara bentuk perdukunan yang paling berbahaya adalah pesugihan.
Pesugihan adalah usaha mencari kekayaan melalui jalan-jalan yang melibatkan kesyirikan, seperti meminta bantuan jin, melakukan ritual tertentu, memberikan sesajen, atau bentuk penghambaan kepada selain Allah dengan harapan memperoleh harta.
Sebagian orang tergoda karena himpitan ekonomi. Ada pula yang menginginkan kekayaan secara instan tanpa melalui usaha yang halal. Padahal, setan selalu menghias keburukan agar tampak indah di mata manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
"Dan sesungguhnya ada beberapa laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari golongan jin, maka jin-jin itu hanya menambah bagi mereka dosa dan kesesatan."
(QS. Al-Jin: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan jin dalam perkara-perkara seperti ini bukanlah hubungan yang membawa manfaat. Justru jin semakin menyesatkan manusia hingga mereka bergantung kepada selain Allah.
Kekayaan yang diperoleh melalui jalan yang diharamkan tidak akan membawa keberkahan. Boleh jadi hartanya bertambah, tetapi ketenangan hidup hilang, ibadah rusak, keluarga tidak harmonis, bahkan yang paling berbahaya adalah rusaknya tauhid, padahal tauhid merupakan harta seorang muslim yang paling berharga.
Penutup
Perdukunan dan pesugihan pada hakikatnya adalah tipu daya setan yang dibungkus dengan janji-janji manis. Mungkin seseorang melihat adanya harta yang bertambah, penyakit yang terasa ringan, atau sebagian ramalan yang tampak terbukti. Namun, seorang mukmin tidak menilai sesuatu hanya dari hasil yang tampak di dunia. Yang lebih utama adalah apakah jalan yang ditempuh diridhai oleh Allah atau justru mengundang murka-Nya.
Tauhid adalah nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba. Oleh karena itu, jangan sampai ia dikorbankan demi mengejar kekayaan sesaat atau solusi instan yang hakikatnya hanyalah jebakan setan. Rezeki yang halal, meskipun sedikit, jauh lebih mulia dan lebih membawa keberkahan daripada harta yang melimpah tetapi diperoleh melalui jalan yang dimurkai Allah.
wallahu a'lam bis shawaab.
