Di Mana Jodohku?
"Di mana jodohku?"
Pertanyaan ini sering muncul di hati orang yang telah lama menanti hadirnya pasangan hidup. Ketika teman-teman mulai membangun rumah tangga, menghadiri undangan pernikahan hampir setiap bulan, sementara diri sendiri masih sendiri, tidak sedikit yang mulai merasa cemas bahkan putus asa.
Padahal, seorang muslim yang beriman kepada takdir seharusnya memiliki keyakinan bahwa jodoh bukanlah sesuatu yang hilang, melainkan sesuatu yang telah Allah tetapkan.
Jodoh Telah Ditakdirkan oleh Allah
Beriman kepada takdir adalah salah satu rukun iman. Segala sesuatu telah ditulis oleh Allah jauh sebelum langit dan bumi diciptakan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash)
Termasuk dalam takdir tersebut adalah siapa pasangan hidup kita.
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda,
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ... رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu ‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan kepada kami, dan beliau adalah ash-Shadiqul Mashduq (orang yang benar lagi dibenarkan perkataannya), beliau bersabda, ”Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya...
Diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim
Karena itu, janganlah merasa takut, karena semuanya telah Allah tuliskan jauh sebelum kita berada di dunia ini. Tidak perlu khawatir jodoh akan tertukar, sebab apa yang Allah tetapkan untukmu tidak akan diambil oleh orang lain.
Allah Mengetahui Waktu Terbaik
Mengapa ada yang menikah di usia 20 tahun, sementara yang lain baru menikah setelah 30 atau bahkan 40 tahun?
Jawabannya sederhana: karena Allah memiliki hikmah yang berbeda untuk setiap hamba.
Allah Ta'ala berfirman,
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Boleh jadi jika engkau menikah lebih cepat, justru agamamu rusak. Boleh jadi jika lamaranmu dahulu diterima, engkau akan hidup bersama seseorang yang menjauhkanmu dari Allah.
Kita tidak mengetahui hal itu, tetapi Allah Maha Mengetahui.
Jangan Menjadikan Penantian Sebagai Alasan Bermaksiat
Keinginan untuk menikah adalah fitrah. Namun, fitrah tidak boleh dipenuhi dengan cara yang haram.
Sebagian orang memilih pacaran bertahun-tahun, sebagian lagi mendatangi paranormal, dukun, atau mempercayai ramalan jodoh.
Padahal Allah berfirman,
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah."
(QS. An-Naml: 65)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perkara gaib tidak diketahui kecuali oleh Allah, kecuali jika Allah sendiri memberitahukannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari para rasul. Karena itu, siapa pun yang mengaku mengetahui jodoh seseorang melalui ilmu gaib berarti telah mengucapkan sesuatu tanpa ilmu.
Jangan sampai keinginan menikah membuat kita terjatuh ke dalam dosa yang justru menghalangi datangnya keberkahan.
Fokus Memperbaiki Diri
Sering kali seseorang sibuk mencari pasangan yang saleh, tetapi lupa bertanya kepada dirinya sendiri, "Sudahkah aku menjadi orang yang saleh?"
Allah Ta'ala berfirman,
الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
"Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik."
(QS. An-Nur: 26)
Walaupun ayat ini dalam konteks pembelaan terhadap Aisyah radhiyallahu 'anha, para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut juga mengandung dorongan agar seorang mukmin memperbaiki dirinya.
Maka gunakan masa penantian untuk memperbaiki salat, memperbanyak membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu syar'i, memperbaiki akhlak, menjaga lisan, dan berbakti kepada orang tua.
Berikhtiar Adalah Bagian dari Tawakal
Ada yang berkata, "Kalau memang sudah jodoh, nanti juga datang sendiri."
Kalimat ini kurang tepat jika dijadikan alasan untuk tidak berusaha.
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa tawakal yang benar adalah menyandarkan hati kepada Allah sambil melakukan sebab-sebab yang dibolehkan syariat.
Karena itu, tidak mengapa meminta bantuan orang tua, kerabat, atau teman yang terpercaya untuk mengenalkan calon yang baik.
Demikian pula mengikuti proses ta'aruf yang sesuai syariat merupakan ikhtiar yang diperbolehkan.
Perbanyak Doa
Doa adalah ibadah yang agung.
Allah Ta'ala berfirman,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagimu."
(QS. Ghafir: 60)
Di antara doa yang sangat indah adalah,
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan: 74)
Perhatikan isi doa tersebut. Yang diminta bukan sekadar pasangan, tetapi pasangan yang menjadi penyejuk mata dan membantu kita menuju ketakwaan.
Jangan Terlalu Sibuk Bertanya "Kapan?"
Pertanyaan "Kapan menikah?" sering kali lebih menyakitkan daripada sulitnya menunggu.
Namun, ketahuilah bahwa umur bukan ukuran keberhasilan.
Banyak yang menikah muda tetapi rumah tangganya dipenuhi pertengkaran. Sebaliknya, ada yang menunggu lebih lama, namun Allah karuniakan pasangan yang menjaga agamanya hingga akhir hayat.
Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa seorang hamba sering kali menginginkan sesuatu, padahal kebinasaan dirinya justru ada pada sesuatu itu. Sebaliknya, ia membenci sesuatu, padahal keselamatan dirinya ada di dalamnya. Karena itu, seorang mukmin hendaknya ridha terhadap pilihan Allah.
Penutup
Jika hari ini engkau masih bertanya, "Di mana jodohku?", maka jawaban yang paling benar adalah: jodohmu berada dalam ilmu Allah.
Ia tidak hilang. Tidak tertukar. Tidak akan didahului orang lain. Ia akan datang ketika Allah menetapkan waktunya.
Tugas kita bukan menghitung berapa lama menunggu, melainkan menggunakan masa penantian untuk memperbaiki iman, memperbanyak amal saleh, menjaga kehormatan diri, memperbanyak doa, dan berikhtiar melalui jalan yang Allah ridhai.
Ingatlah, pernikahan bukanlah garis akhir dari perjalanan hidup. Pernikahan hanyalah awal dari amanah yang besar. Maka persiapkan diri sebaik mungkin agar ketika Allah mempertemukanmu dengan pasanganmu, engkau telah siap menjadi suami atau istri yang bertakwa.
Semoga Allah menganugerahkan kepada setiap muslim dan muslimah pasangan yang saleh atau salehah, yang menjadi penyejuk mata, penolong dalam ketaatan, serta teman menuju surga-Nya. Aamiin.