Bertaubat dari Perdukunan dan Pesugihan
Islam adalah agama yang membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi siapa saja yang kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan. Betapa pun besar dosa seseorang, selama ia belum meninggal dunia dan matahari belum terbit dari arah barat, pintu taubat masih terbuka.
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
(QS. Az-Zumar: 53)
Bagi seseorang yang pernah mendatangi dukun, menggunakan jimat, mengikuti ritual pesugihan, atau mempercayai ramalan, jangan berputus asa. Yang wajib dilakukan adalah segera kembali kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).
Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang benar memiliki beberapa syarat, yaitu menghentikan perbuatan dosa yang dilakukan, menyesali dosa tersebut dengan sepenuh hati, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi, dan apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain maka hak itu harus dikembalikan atau diselesaikan.
Taubat yang tulus bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga dibuktikan dengan meninggalkan semua jalan yang mengantarkan kepada kesyirikan serta memperbanyak amal saleh sebagai bentuk kesungguhan kembali kepada Allah.
Bagaimana dengan Jimat?
Salah satu peninggalan praktik perdukunan yang sering masih disimpan adalah jimat. Ada yang berbentuk kalung, cincin, kain bertuliskan simbol tertentu, rajah, batu, atau benda yang diyakini dapat menolak bala maupun mendatangkan keberuntungan.
Padahal Nabi ﷺ memperingatkan umatnya agar tidak menggantungkan hati kepada benda-benda semacam itu. Seorang muslim hendaknya meyakini bahwa manfaat dan mudarat hanya berada di tangan Allah. Jimat tidak mampu melindungi seseorang tanpa izin-Nya, bahkan keyakinan terhadap kekuatan jimat dapat merusak kemurnian tauhid.
Karena itu, apabila seseorang masih memiliki jimat yang berasal dari praktik perdukunan, hendaknya ia meninggalkannya, menghancurkan atau membuangnya dengan cara yang baik, serta tidak lagi meyakini adanya kekuatan gaib pada benda tersebut.
Rezeki yang Halal Lebih Berkah
Sering kali alasan seseorang mendatangi dukun atau melakukan pesugihan adalah karena ingin cepat kaya. Padahal Islam mengajarkan bahwa keberkahan jauh lebih penting daripada banyaknya harta.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Ayat ini mengajarkan bahwa jalan memperoleh rezeki bukanlah melalui kesyirikan, melainkan melalui ketakwaan. Rezeki yang halal, meskipun tampak sedikit, akan membawa ketenangan, keberkahan, dan menjadi sebab kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
Sebaliknya, harta yang diperoleh melalui jalan yang haram dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan, rusaknya hubungan keluarga, gelisahnya hati, dan beratnya hisab pada hari kiamat.
Cara Menjemput Rezeki yang Diridhai Allah
Islam mengajarkan banyak sebab datangnya rezeki yang halal, di antaranya:
- Memperbaiki tauhid dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan.
- Bertakwa kepada Allah dalam setiap keadaan.
- Menjaga salat lima waktu.
- Memperbanyak istighfar dan doa.
- Bersedekah sesuai kemampuan.
- Menyambung silaturahmi.
- Bekerja dengan usaha yang halal.
- Bertawakal kepada Allah setelah berikhtiar.
Semua sebab ini telah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Meskipun hasilnya tidak selalu datang secepat yang diinginkan, seorang mukmin yakin bahwa janji Allah adalah benar dan pilihan Allah selalu lebih baik daripada jalan pintas yang dimurkai-Nya.
Jangan Menunda Taubat
Tidak sedikit orang yang menyadari bahwa dirinya telah terjerumus ke dalam praktik perdukunan atau pesugihan, tetapi menunda untuk bertaubat. Ada yang merasa dosanya terlalu besar sehingga Allah tidak akan mengampuninya. Ada pula yang masih takut kehilangan harta, jabatan, atau "perlindungan" yang selama ini diyakininya berasal dari jin atau jimat.
Padahal semua itu hanyalah tipu daya setan. Setan tidak hanya mengajak manusia berbuat syirik, tetapi juga membuat mereka berputus asa dari rahmat Allah. Padahal Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang kembali dengan tulus.
Karena itu, janganlah menunda taubat. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan menjemputnya. Bisa jadi hari ini seseorang masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, tetapi esok hari kesempatan itu telah tertutup. Seorang mukmin yang cerdas adalah mereka yang segera kembali kepada Allah ketika menyadari kesalahannya, tanpa menunggu waktu yang dianggap tepat.
Buah Manis Menjaga Tauhid
Menjaga kemurnian tauhid bukan hanya menyelamatkan seseorang dari azab Allah di akhirat, tetapi juga menghadirkan ketenangan dalam kehidupan di dunia. Orang yang bertauhid memahami bahwa seluruh urusannya berada di bawah kehendak Allah. Ketika rezekinya sempit, ia bersabar dan terus berikhtiar. Ketika diberi kelapangan, ia bersyukur dan tidak sombong.
Hati yang dipenuhi tauhid tidak akan mudah tergoda oleh janji-janji palsu para dukun, paranormal, atau pelaku pesugihan. Ia yakin bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu memberi manfaat atau menolak mudarat tanpa izin Allah. Keyakinan inilah yang melahirkan ketenangan, rasa aman, dan tawakal yang benar.
Sebaliknya, orang yang menggantungkan harapannya kepada selain Allah akan terus hidup dalam ketakutan. Ia takut kehilangan jimatnya, takut ritualnya terputus, atau takut "penjaga gaibnya" marah. Kehidupan seperti ini tidak pernah menghadirkan ketenteraman yang sejati.
Oleh sebab itu, sebesar apa pun ujian yang sedang dihadapi, hendaknya seorang muslim tetap menjaga tauhidnya. Jangan pernah menukar nikmat keimanan dengan kesenangan dunia yang hanya sementara.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Dari pembahasan ini, terdapat beberapa pelajaran penting:
- Tauhid adalah harta paling berharga yang dimiliki seorang muslim.
- Tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara gaib selain Allah.
- Mendatangi dan mempercayai dukun merupakan perkara yang sangat berbahaya bagi akidah.
- Pesugihan bukan jalan menuju keberkahan, melainkan tipu daya setan yang dapat menjerumuskan manusia kepada kesyirikan.
- Jalan menuju rezeki yang baik adalah ketakwaan, usaha yang halal, doa, dan tawakal kepada Allah.
Renungan untuk Kita Semua
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Ketika menghadapi kesulitan, kepada siapakah hati ini bergantung? Ketika menginginkan rezeki yang lebih luas, apakah kita menempuh jalan yang diridhai Allah atau justru tergoda mencari jalan pintas yang dilarang syariat?
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tetap istiqamah di atas tauhid, menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, serta mengaruniakan kepada kita rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan.
Penutup
Godaan untuk mencari jalan pintas menuju kekayaan, kesembuhan, atau solusi hidup akan selalu ada. Namun, seorang muslim hendaknya mengingat bahwa setiap kenikmatan yang diperoleh dengan cara yang dimurkai Allah tidak akan membawa keberkahan.
Keimanan kepada Allah menuntut kita untuk meyakini bahwa hanya Dia yang mengatur rezeki, mengetahui perkara gaib, dan menguasai seluruh alam semesta. Karena itu, janganlah menggantungkan harapan kepada dukun, paranormal, jimat, atau ritual apa pun yang bertentangan dengan syariat.
Marilah kita menjaga tauhid, memperbanyak doa, memperbaiki ibadah, dan menempuh sebab-sebab rezeki yang halal. Semoga Allah menjaga kita dan keluarga kita dari segala bentuk kesyirikan, mengampuni dosa-dosa kita, serta mengaruniakan kepada kita rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Daftar Pustaka
- Al-Qur'anul Karim.
- Shahih al-Bukhari.
- Shahih Muslim.
- Sunan Abu Dawud.
- Jami' at-Tirmidzi.
- Sunan Ibnu Majah.
- Musnad Ahmad.
- Majmu' al-Fatawa.
- Ighatsatul Lahfan.